STRATEGI PENINGKATAN MUTU SEKOLAH DASAR
Muhammad
Sunandar Alwi[1]
Abstrak
Pengelolaan pendidikan adalah unit paling bawah untuk merencanakan
program pendidikan. Membuat keputusan pengelolaan pendidikan harus dilakukan
secara komprehensif untuk mengcover seluruh kebutuhan-kebutuhan sekolah, visi,
misi, dan tujuan pendidikan sekolah. Dalam meningkatkan strategi mutu sekolah
dasar memiliki tahapan-tahanpan diantaranya; pengelolaan sanitasi, menumbuhkan
budaya baca, inovasi tata kelola, optimalisasi pembelajaran e-learning,
revitalisasi komite sekolah, strategi mencegah dan menanggulangi putus sekolah,
teknik pembelajaran efektif, menguatkan kompetisi manajerial kepala sekolah,
menguatkan pembelajaran daerah tertinggal, terluar, dan tertinggal, serta peran
pemerintah dan penggunaan gadget. Hasil strategi peningkatan mutu sekolah harus
benar-benar dikelola secara benar dan baik. Diharapkan mampu mengoptimalkan
kemajuan teknologi yang ada untuk memperkuat pendidikan dalam persaingan pasar.
Kata
Kunci: Pendidikan, Sumber daya Manusia, Sekolah.
Pendahuluan
Lembaga pendidikan merupakan salah satu institusi sosial yang
memiliki peran strategis dalam pembinaan kepribadian anak. Di dalam lembaga
sekolah terjadi proses transformasi kebudayaan. Melalui pembelajaran sesuai
kurikulum yang berisikan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang
berlaku di masyarakat. Karena sekolah merupakan tempat atau lembaga pendidikan
untuk belajar mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran.[2]
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan
dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[3]
Keberadaan lembaga pendidikan sekolah dituntut untuk mengembangkan
mutu kehidupan dan martabat manusia. Namun pada kenyataanya saat ini mutu
pendidikan di Indonesia sedang dalam kondisi rendah. Hal ini didasarkan atas
indeks pembangunan pendidikan untuk semua education for all development
index (EDI) di Indonesia menurun. Jika pada tahun 2010 Indonesia berada di
peringkat 65%, pada tahun 2011 menurun ke peringkat 69%, dan pada tahun 2012
berada di peringkat 68%. Menurut Human
Development Index (HDI), pengukuran perbandingan dari harapan hidup,
pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia yang dilakukan
oleh UNDP, di antara 187 negara di dunia Indonesia menempati urutan ke-124 pada tahun 2011.[4]
Pengelolaan suatu pendidikan atau pengelolaan sekolah merupakan
pengelolaan pendidikan yang berada unit paling bawah untuk merencanakan program
pendidikan dan membuat keputusan yang berada dalam tindakan-tindakan nyata yang
dilakukan secara komprehensif untuk meng-cover
seluruh kebutuhan-kebutuhan sekolah, visi, misi, dan tujuan pendidikan sekolah.[5]
Kini jelas bahwa lembaga pendidikan sekolah sangatlah patut
ditingkatkan mutunya. Karena apabila tersebut tidak bermutu, maka pelaksanaan
proses belajar mengajar tidak akan efektif dan efisien. Tidak efektif dan
efisiennya dalam proses belajar mengajar akan menghasilkan prestasi hasil
belajar yang kurang baik, yang berarti kurang bisa mencapai tujuan pendidikan
yang di cita-citakan.
Pembahasan
1.
Menguatkan
Kompetisi Manajerial Kepala Sekolah
Kegiatan manajemen menjadi tanggung jawab utama kepala sekolah, di
samping kepemimpinan kepala sekolah untuk mencapai sekolah yang berkualitas.
Dewasa ini banyak pimpinan kepala sekolah kurang mampu mengarahkan perubahan di
sekolahnya sesuai tuntutan masyarakat. Padahal berbagai perubahan perlu di
respon setiap sekolah dengan berdasarkan pada perubahan kebijakan bidang
pendidikan, baik kurikulum, pembinaan keprofesionalan guru, personil pegawai,
sarana dan prasarana, dan pembinaan siswa.
Dimensi
kepemimpinan kepala sekolah sebagai bagian utama dari manajemen pendidikan
untuk meningkatkan keefektifan dan efisiensi sekolah. Posisi kepala sekolah
sebagai penanggungjawab kesuksesan atau kegagalan sekolah dalam melakukan pembelajaran
akan sangat tergantung pada upaya mengoptimalkan peran dan tugas kepemimpinan
secara efektif. Sisi penting dari organisasi sekolah adalah budaya organisasi
yang dikembangkan kepala sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Keterkaitan perilaku pemimpin dengan budaya mutu sekolah (organisasi) dapat
dilihat dari bagaimana pemimpin membentuk atau mempertahankan budaya mutu
sekolah yang kuat (strength of quality
cultural school).[6]
Jadi, peran
pemimpin dalam membangun mutu sekolah sangat strategis, karena pemimpin
merupakan orang yang akan menerjemahkan visi, misi serta tujuan organisasi yang
harus dicapai dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Kepemimpinan berfungsi
untuk mengarahkan semua sumber daya organisasi untuk melakukan perbaikan mutu
yang berkelanjutan dalam mencapai tujuan organisasi tersebut.
2.
Revitalisasi
Komite Sekolah
Komite sekolah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan
orangtua/wali peserta didik, komunitas sekolah, serta tokoh masyarakat yang
peduli pendidikan. Komite sekolah sebenarnya telah ada sejak diberlakukannya
Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan
dan Komite Sekolah. Namun keberadaanya saat ini perlu dilakukan revitalisasi
tugasnya, agar berdasarkan prinsip gotong royong oleh karena itu komite sekolah
yang sudah ada sejak dulu perlu dilakukan perubahan. Sehingga ditetapkanlah
Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 tentang komite sekolah.[7]
Masalah yang sering terjadi pada komite sekolah pada umumnya komite
sekolah dibentuk secara instan untuk memenuhi syarat subsidi. Pada umumnya
peran sebagai supporting agency lebih dominan karena semua pihak masih
menganut paradigma lama. Sistem dan mekanisme pemilihan pengurus baru sering
belum sesuai dengan AD/ART dan masih banyak bad practices.
Komite sekolah yang baik berperan memajukan sekolah, tidak hanya
sekadar ikut tanda tangan saja. Peran aktif seperti itulah yang harus dilakukan
oleh komite demi kelancaran dan kesuksesan program sekolah. Berikut adalah
beberapa praktik yang dilakukan oleh komite sekolah dalam meningkatkan kualitas
pembelajaran:
a.
Komite
sekolah mendukung siswa yang kesulitan belajar. Siswa yang mengalami kendala
belajar dengan berbagai faktor harus mendapat perhatian dan pendampingan
khusus. Komite bersama kepala sekolah mencari permasalahan siswa dan di
diskusikan bersama dengan siswa, orang tua, dan guru untuk mencari solusi.
b.
Komite
sekolah juga mendukung siswa berprestasi dan memberikan pelayanan bagi siswa
yang mendapatkan nilai baik. Dengan membuat progam seperti percepatan mutu.
Mulai dari program percepatan mutu akademik dan program percepatan mutu non
akademik.
c.
Memotivasi
siswa yang sedang menempuh ujian seraya mengucapkan dan menyampaikan kata-kata
motivasi agar anak menjadi semangat.
d.
Komite
sekolah membantu sekolah memelihara lingkungan dan sarana prasarana serta
membangun sarana pembelajaran yang dibutuhkan siswa. Komite sekolah bersama
dengan kepala sekolah mengelola dana alokasi khusus (DAK) untuk perbaikan
sekolah dasar.
Program kerja komite sekolah yang didasarkan atas kebutuhan sekolah
dan dibicarakan secara terbuka dengan orang tua, pasti akan mendapat dukungan
yang nyata. Keterbukaan pada saat perencanaan dan pelaksanaan menjadi kunci
keberhasilan komite sekolah. Jadi fungsi komite sekolah adalah untuk menunjang
keberhasilan sekolah.[8]
3.
Teknik
Pembelajaran Efektif
Proses
belajar mengajar menjadi salah satu aspek dari lingkungan lembaga pendidikan
yang perlu diperhatikan. Karena keefektifan dan keefisien proses pembelajaran
merupakan titik awal dalam menentukan keberhasilan pengajaran sehingga
pelaksanaan pembelajaran sudah seharusnya ditingkatkan. Pendidik harus kreatif dalam
mengelola pembelajaran dengan memilih dan menetapkan berbagi pendekatan, metode
dan media pembelajaran yang relevan dengan kondisi peserta didik dan pencapaian
kompetensi.[9]
Ada enam faktor yang mendukung keberhasilan pembelajaran, tiga
faktor utama yaitu guru, siswa, dan kurikulum, dan tiga faktor sebagai tambahan
yaitu sarana dan alat-alat pendidikan, pengelolaan serta lingkungan. Selain
enam faktor diatas budaya sekolah juga berpengaruh dalam pendukung keberhasilan
pengajaran. Budaya adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi,
kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah,
pendidik/guru, petugas tenaga kependidikan/administrasi, siswa, dan masyarakat
sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas karakter atau watak, dan
citra sekolah tersebut di masyarakat luas. Fungsi budaya sekolah merupakan
kekuatan yang menggerakkan dan mengendalikan perilaku anggotanya dalam
berkomunikasi dengan lingkungannya. Pada sekolah yang dikelola dengan baik,
setiap orang dalam organisasi menganut budaya mereka.[10]
4.
Optimalisasi
Pemebelajaran E-learning
Pemakaian teknologi informasi sudah sangat luas dalam
berbagai bidang mulai, industri, kesehatan, pendidikan dan masih banyak lagi di
Indonesia. Internet dengan keunggulannya dalam eliminasi batas ruang dan waktu
membuka peluang yang sangat besar untuk perkembangan di dalam dunia
pendidikan.
Teknologi informasi khususnya internet meniadakan
batasan ruang dan waktu dan memungkinkan para siswa untuk aktif mencari materi
dan bahan pembelajaran secara mandiri. Dengan fasilitas yang ada pada internet
guru dan murid bisa berinteraksi tanpa harus terbatas pada waktu pertemuan
kelas. Metode pembelajaran E-learning adalah sebuah istilah di mana bentuk teknologi
informasi diterapkan pada bidang pendidikan
dalam bentuk sekolah maya. Effendi dan Zhuang menyatakan bahwa e-learning
mengacu pada semua kegiatan pelatihan yang
menggunakan media elektronik atau teknologi informasi.[11]
Peran guru belum mengetahui benar akan kegunaan sistem e-learning
dan mayoritas siswa. Dengan adanya sistem e-learning guru bisa
memberikan materi yang interaktif dan forum siswa menginginkan sistem yang
memberikan kemudahan terhadap pengerjaan tugas.
Sistem e-learning yang dirancang diharapkan dapat meningkatkan
kualitas pembelajaran dan menjawab kebutuhan yang diharapkan oleh siswa dan
guru. Dapat disimpulkan bahwa pengguna menginginkan proses interaksi antara
guru dan murid melalui forum diskusi dan fokus pada kualitas materi yang
interaktif sehingga dapat membantu proses belajar mengajar. Dengan adanya
sistem e-learning, diharapkan para siswa dan guru bisa lebih
meningkatkan pemahaman penggunaan internet untuk menunjang proses pendidikan.[12]
Menganalisis kebutuhan sistem e-learning bahwa
sistem e-learning yang ada sifatnya tidak dapat menggantikan proses
pembelajaran konvensional yang dilakukan di sekolah. E-learning menjadi
suatu fasilitas dan cara alternatif yang dapat digunakan untuk menumbuhkan
proses pembelajaran.
kendala utama yang dihadapi oleh para guru dan siswa
dalam proses pembelajaran mandiri adalah kurangnya minat dari siswa dan
motivasi untuk melakukan pembelajaran secara mandiri, sistem e-learning diharapkan
bisa menumbuhkan minat siswa untuk mengeksplorasi potensi yang ada secara lebih
dalam lagi dan merangsang siswa untuk belajar secara mandiri dengan teknologi
internet yang ada.
Sistem e-learning yang dirancang nanti
diharapkan bisa menghilangkan ketergantungan utama siswa dan guru terhadap text-book.
Walaupun proses pembelajaran masih menggunakan landasan utama dari text-book,
tapi sistem e-learning akan memperkaya metode pembelajaran di luar text-book
yang akan menumbuhkan minat siswa untuk belajar secara mandiri.
5.
Inovasi
Tata Kelola Sekolah
Pengelolaan suatu pendidikan atau pengelolaan sekolah merupakan
pengelolaan pendidikan yang berada unit paling bawah untuk merencanakan program
pendidikan dan membuat keputusan yang berada dalam tindakan-tindakan nyata yang
dilakukan secara komprehensif untuk meng-cover
seluruh kebutuhan-kebutuhan sekolah, visi, misi, dan tujuan pendidikan sekolah.[13]
Inovasi
tata kelola di sekolah dasar sangat
tergantung pada berfungsi atau tidaknya manajemen sekolah. Pengelolaan sekolah
juga harus membangun sebuah sistem yang di dalamnya mengutamakan kerjasama.
Setiap sekolah harus dapat menciptakan budaya sekolahnya sendiri sebagai
identitas diri, dan juga sebagai rasa kebanggaan akan sekolahnya. Dalam
menciptakan tata kelola sekolah, kita hendaknya juga berpedoman pada misi dan
visi sekolah yang tidak hanya mencerdaskan otak saja.[14]
Membangun tata kelola mutlak harus diikuti perubahan yang dilakukan
oleh sekolah. Perubahan sekolah tidak hanya mencakup manajemen sekolah, namun
mampu menciptakan iklim kondusif untuk perkembangan pribadi peserta didik,
tidak hanya menjadi lembaga mekanis dan birokratis, tetapi menjadi lembaga
pendidikan yang inovatif dan demokratik. Konsekuensi dari perubahan dimensi
mutu adalah sekolah harus melakukan manajemen inovasi yang berupa adaptasi dan
pembaharuan, terutama dalam pemimpin pendidikan.
6. Pengelolaan Sanitasi Sekolah
Pengelolaan
sanitasi di sekolah dasar menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
852/MENKES/SK/IX/2008 tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
adalah kondisi ketika suatu komunitas tidak membuang air besar (BAB)
sembarangan, mencuci tangan
pakai sabun, mengelola air minum dan makanan yang aman, mengelola sampah
dengan benar, dan mengelola limbah dengan aman.
Sanitasi dasar adalah sanitasi minimum yang diperlukan
untuk menyediakan lingkungan sehat yang
memenuhi syarat kesehatan yang menitik beratkan pada pengawasan berbagai faktor
lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia Menurut Azwar, dalam TH Zafirah sanitasi lingkungan sebagai aktivitas yang
diarahkan untuk meningkatkan dan mempertahankan standar kondisi lingkungan
yang mendasar, dimana hal tersebut mempengaruhi kesejahteraan manusia. Lebih
lanjut dijelaskan bahwa standar kondisi lingkungan tersebut terdiri dari;
persediaan air bersih dan aman, pembuangan limbah, baik hewan, manusia, maupun
limbah industri, makanan sehat, udara yag bersih dan aman, serta rumah
yang bersih dan untuk ditinggali.[15]
Bahwa
pengelolaan sanitasi di sekolah dasar harus memiliki komponen diantaranya; air
bersih, toilet/jamban, saluran pembuangan air limbah, sarana pembuangan sampah,
dan cuci tangan. Sanitasi ditujukan untuk memenuhi persyaratan
lingkungan yang sehat dan nyaman. Lingkungan yang sanitasinya buruk dapat
menjadi sumber berbagai penyakit yang dapat mengganggu kesehatan manusia.
Pada ahirnya jika kesehatan terganggu, maka kesejahteraannya juga akan
berkurang. Karena itu, upaya sanitasi lingkungan menjadi bagian penting dalam
meningkatkan kesejahteraan dan dapat meningkatkan mutu pendidikan sekolah
dasar.
7.
Strategi
Mencegah dan Menanggulangi Tinggal Kelas dan Putus Sekolah
Keberhasilan pendidikan dalam mencegah dan menanggulangi tinggal
kelas atau putus sekolah harus dimengerti masalah yang dialaminya. Sehingga
tujuan pokok permasalahan dapat di ketahui dengan upaya pembedaan bantuan
pemecahan masalah pada peserta didik tersebut. Agar tujuan tersebut tercapai
secara efektif dan efisien, guru hendaknya menerapkan tahap-tahap pemecahan
masalah yang sistematis.
Adapun tahap-tahap pemecahan masalah yang harus dilaksanakan dengan
tujuan untuk menemukan siswa atau peserta didik yang diperkirakan mengalami
masalah dan memerlukan bantuan.[16]
Cara yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah:
a.
Meneliti
kartu pribadi siswa, catatan kehadiran siswa, dan catatan-catatan siswa
lainnya.
b.
Mengadakan
wawancara dengan siswa tentang masalah yang dialaminya.
c.
Mengadakan
pengamatan terhadap siswa, baik dalam kegiatan belajar di kelas maupun di luar
kelas.
d.
Mengadakan
home viset (kunjungan rumah) ke rumah siswa.
e.
Membandingkan
hasil belajar siswa dengan potensi yang dimilikinya atau nilai-nilai rerata
kelas atau nilai minimal yang harus dicapai siswa untuk setiap pelajaran.
Dengan cara-cara tersebut di atas, akhirya ditemukan seorang siswa
yang diperkirakan bermasalah dan memerlukan bantuan pemecahan masalah. Dalam
hal ini, keterampilan guru untuk menangani masalah siswa juga sangat penting
seperti menguasan karakter siswa dan kemampuan menggunakan teknik konseling
yang tepat sesuai dengan masalah siswa. Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
guru memiliki peran dan kedudukan yang strategis dalam keseluruhan proses
pendidikan di sekolah dasar.
Oleh karena itu, tugas guru bukan hanya mengajar dalam arti
mengalihkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, melainkan juga membimbing
dalam arti membantu peserta didik memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.
Untuk itu, guru dituntut memahami dan terampil menetapkan tahap-tahap,
langkah-langkah, dan teknik-teknik pemecahan masalah secara sistematis.
8.
Menguatkan
Pembelajaran 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal)
Meningkatkan kualitas pendidikan di daerah 3T merupakan langkah
penting untuk peningkatan mutu sekolah. Dalam rangka peningkatan mutu dan relevansi
pendidikan, terus pula dilakukan peningkatan jumlah
dan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan termasuk melalui penyediaan guru
bantu, penyediaan materi bahan ajar terutama buku pelajaran dan
peralatan peraga pendidikan, penguatan pendidikan kecakapan hidup dan
penataan hubungan lembaga pendidikan.
Banyak guru yang mengajar bukan dari latar belakangnya. Padahal
peran guru dalam konteks pembelajaran menuntut perubahan. Peranan guru sebagai
penyebar informasi semakin kecil, tetapi lebih banyak berfungsi sebagai
pembimbing, penasehat, dan pendorong. Peserta didik adalah individu-individu
yang kompleks, yang berarti bahwa mereka mempunyai perbedaan cara belajar
sesuatu yang berbeda pula. Proses belajar mengajar lebih ditekankan pada
belajar daripada mengajar.
Dalam proses pendidikan, pengawasan atau supervisi merupakan bagian
tidak terpisahkan dalam upaya peningkatan prestasi belajar dan mutu sekolah.
Bahwa pengawasan atau supervisi pendidikan tidak lain dari usaha memberikan
layanan kepada stakeholder pendidikan, terutama kepada guru-guru, baik
secara individu maupun secara kelompok dalam usaha memperbaiki kualitas proses
dan hasil pembelajaran. Hakikat substansi pengawasan yang dimaksud menunjuk
pada segenap upaya bantuan supervisor kepada stakeholder pendidikan
terutama guru yang ditujukan pada perbaikan-perbaikan dan pembinaan aspek
pembelajaran.[17]
Serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya
mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran sering
disingkat dengan superdiskon. Superdiskon merupakan upaya membantu guru-guru
mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan pembelajaran. Dengan demikian,
esensi superdiskon itu sama sekali bukan menilai unjuk kerja guru dalam
mengelola proses pembelajaran, melainkan membantu guru mengembangkan kemampuan
profesionalismenya.[18]
Pendampingan guru dengan superdiskon (supervisi, diskusi dan
konsultasi) dirasakan efektif dan efisien dalam pencapaian tujuannya. Dengan
demikian jika pengawas sekolah melakukan kegiatan pendampingan dengan
supervisi yang artistik, dilanjutkan dengan diskusi dan memberikan ruang kepada
guru untuk konsultasi dengan berbagai cara langsung tidak langsung, dengan
memanfaatkan media komunikasi yang ada akan cepat meningkatkan kemampuan guru.
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa pendampingan pembelajaran
kolaboratif melalui superdiskon (supervisi, diskusi dan konsultasi) dapat
meningkatkan mutu di daerah 3T.
9. Menumbuhkan Budaya Baca
Sebuah sekolah harus mempunyai misi menciptakan budaya sekolah yang
menyenangkan, adil, kreatif, inovatif, terintegratif dan dedikatif terhadap
pencapaian visi, menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi dalam
perkembangan intelektualnya, jujur, kreatif, mampu menjadi teladan serta
menjawab tantangan akan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang dapat
berperan dalam perkembangan iptek. Perwujudan masyarakat yang bermutu tersebut
menjadi tanggung jawab pendidikan, terutama dalam mempersiapkan peserta didik
menjadi subyek yang makin berperan menampilkan keunggulan dirinya yang tangguh,
kreatif, mandiri, dan profesional pada bidangnya masing-masing.[19]
Menumbuhkan budaya baca sekolah juga berpengaruh dalam pendukung
keberhasilan dalam peningkatan mutu sekolah dasar. Budaya adalah sekumpulan
nilai yang melandasi perilaku, trasdisi, kebiasan keseharian, dan simbol-simbol
yang dipraktikan oleh kepala sekolah, pendidik atau guru, petugas tenaga
kependidikan, adminitrasi, siswa dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya baca
sekolah merupakan ciri khas karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di
masyarakat luas. Fungsi budaya membaca di sekolah merupakan kekuatan yang
menggerakkan dan mengendalikan perilaku anggotanya dalam berkomunikasi dengan
lingkungannya.
Guru harus aktif dalam membantu dalam menumbuhkan minat baca pada
siswa dengan berbagai cara diantaranya; membagi siswa tersebut dalam tiga
kelompok. Pada kelompok pertama, yang duduk melingkar, dibagikannya buku-buku
untuk dibaca. Buku buku dengan banyak gambar dan huruf yang cukup besar. Serta
memberikan potongan-potongan huruf dan memberi kertas yang berisi sebuah
kalimat.
Siswa-siswa dimintanya untuk menyusun huruf sesuai dengan kalimat
yang tertera di kertas yang diberikannya. Kelompok yang ketiga diajak duduk di
depan sebuah papan. Di papan ini tertera urutan huruf A sampai Z. Di bawahnya
ada gabungan konsonan dan vokal yang bisa menghasilkan bunyi. Guru mengajak
kelompok siswa tersebut untuk menyanyi berbagai lagu yang berhubungan dengan
huruf-huruf. Setelah lagu selesai, dia mengetes satu dua anak untuk menyebutkan
nama huruf. Dan ini harus didukung dengan berbagai pihak dari orang tua,
masyarakat, lingkungan. Agar siswa bisa membaca untuk mencapai hasil belajar
yang lebih baik.[20]
10. Penggunaan Gadget Bagi Siswa
Perkembangan gadget hingga sampai sekarang ini makin mudah diakses
oleh semua kalangan dengan bentuk yang makin kompleks sehingga mudah dibawa
kemana pun. Disatu sisi memang memiliki dampak positif yang dapat menghubungkan
dengan teman, sanak saudara, atau menambah kenalan walaupun dengan jarak yang
jauh dengan waktu yang relatif cepat. Dilain pihak gadget memiliki dampak
negatif yang banyak juga akan tetapi itu semua kembali lagi
bagi penggunanya untuk
selalu mengontrol diri
agar jauh dari dampak negatifnya.
Memberikan gambaran positif dan negatif
tentang dampak teknologi pada anak. Dalam sesi ini orang tua hendaknya memperhatikan daily mood anak kita. Ini penting karena ada
kalanya ketika kita hendak membicarakan sesuatu atau sekedar memberi pengertian
atau saran tapi anak-anak cenderung merasa tak nyaman dan dihakimi. Tapi ketika
kita paham kapan waktu yang tepat di situlah kita biasanya mengambil kesempatan
untuk berbicara.
Jadwalkan kegiatan anak dalam
menggunakan internet dengan memberi batasan tertentu sehingga mereka tidak
tenggelam berjibaku seharian di depan gadget-nya. Dengan begitu aktivitas
dunia maya dan nyatanya seimbang dan pembentukan karakter mereka sebagai
individu sosial tetap dapat terealisasi. Bahwa fungsi gadget adalah untuk membantu penggunanya
mempermudah dalam kehidupan berkomunikasi.
11. Peran Pemerintah Daerah
Pengelolaan pendidikan berubah dari sistem sentralisasi ke sistem
desentralisasi. Desentralisasi pendidikan berarti terjadinya pelimpahan
kekuasaan dan wewenang yang lebih luas kepada daerah untuk membuat perncanaan
dan mengambil keputusannya sendiri dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi
di bidang pendidikan.[21]
Pemerintah Kabupaten dan Dinas Pendidikan dapat membuat
program-program dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di daerah. Serta
mendorong terjadinya proses otonomi baik pada pemerintah daerah maupun pada
setiap satuan pendidikan agar memiliki kemampuan untuk mengelola dan
menyelenggarakan pendidikan yang bermutu, adil dan merata bagi setiap
masyarakat
Peranan pemerintah daerah adalah segala sesuatu yang dilakukan atau
kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah sehubungan dengan tugas dan
fungsi pemerintah daerah sebagai pelaksana pemerintahan di tingkat daerah dan
pengambil kebijakan yang ada.[22]
Hal ini dapat diukur dengan indikator-indikator sebagai berikut:
a.
Kebijakan
pemerintah daerah yang berkaitan dengan peningkatan mutu sekolah, baik dalam
bentuk peraturan daerah maupun pusat.
b.
Bantuan-bantuan
yang diberikan oleh pemerintah daerah kepada masyarakat dan lembaga pendidikan
di setiap jenjangnya. Baik berupa bantuan finansial dan motivasi-motivasi dalam
menekankan pada pentingnya proses pendidikan.
Pemerintah daerah melakukan program dan kegiatan yang akan
dilaksanakan kedepan dengan berpedoman pada program pembangunan daerah. Seperti
program pelayanan administrasi perkantoran, program peningkatan sarana
prasarana aparatur, program peningkatan disiplin aparatur. program peningkatan
kapasitas sumber daya aparatur, program perencanaan, pelaporan, kinerja dan
keuangan.
Kesimpulan
Berdasarkan analisis
yang telah dilakukan, dapat disimpulkan. Pengelolaan sekolah juga harus membangun sistem yang di dalamnya
mengutamakan kerjasama orang tua/wali, peserta didik, serta tokoh masyarakat.
Serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya manusia untuk meningkatkan mutu
sekolah. Peran pemerintah dalam
meningkatkan pendidikan dalam meningkatkan mutu sekolah dasar belum
terlalu maksimal tetapi dapat di laksanakan dan berjalan dengan baik walaupun dilapangan masih terdapat banyak kendala dan juga keterbatasan sarana prasarana pendidikan.
Daftar Pustaka
Agus Putranto,
2011. Perancaan Sisitem E-Learning Berbasis Web dengan Analisis Swot Pada
Sekolah Menegah, Jurnal Umum, ComTech Vol.2 No. 2
Desember 2011.
Ahmad Fauzi,
2015. Analisa Peranan Pemerintah Daerah Terhadap Anak Putus Sekolah di
Kabupaten Wajo, (Skripsi: Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas
Hasanudin Makasar.
Ara
Hidayat, 2012. Pengelolaan Pendidikan.Yogyakarta: Kaukaba.
Bejo. 2016. Simposium Guru dan Tenaga Pendidikan, Meningkatkan
Mutu dan Akses Pendidikan di Daerah Teringgal 3T Melalui Superdiskon oleh Pengawasan
Sekolah. Pemerintah Kabupaten Sintang Dinas dan Kebudayaan.
Direktorat
Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama RI tahun 2006, Undang-Undang dan Peraturan Pemerintahan RI Tentang Pendidikan.
Effendi, Empy dan Hartono Zhuang. (2005). E-learning:
Konsep dan Aplikasi, ed. 1. Yogyakarta:
Andi Offset.
Andi Offset.
Inspektorat Jendral Kemendikbud. 2016. Bintek Program Penguatan
Pendidikan Karakter Bagi Kepsek. Disampaikan oleh Drs.Kustri Waluyo, MM,
dan Waluyo, S.IP, M.Ak
Mulyadi,
2010. Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam
Mengembangkan Budaya Mut. Malang: UIN-Maliki Press.
Muhammad
Faturrohman. 2012, Implementasi Manajemen
Peningkatan Mutu Pendidikan Islam. Yogyakarta: Teras.
Muhammad
Yusuf Hidayat, 2014. Peran Guru dalam Pemecahan Masalah Peserta Didik untuk
MI/SD, (AULADUNA, VOL. 1 NO. 2 DESEMBER 2014.
Milya Sari,
2012. “Usaha Mengatasi Problematika
Pendidikan Sains di Sekolah dan Perguruan Tinggi”. Jurnal Al-Ta’lim. Vol 1 No. 1.
USAID,
2015. Buku Praktik yang Baik, Tata Kelola dan Manajmen Sekolah di SD/MI dan
SMP/MTS, Prepared for USAID Indonesia.
[1] Lulusan
Sejarah & Kebudayaan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
[2] Muhammad
Faturrohman. Implementasi Manajemen
Peningkatan Mutu Pendidikan Islam. (Yogyakarta: Teras, 2012), hal.1.
[3] Direktorat
Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama RI tahun 2006, Undang-Undang dan Peraturan Pemerintahan RI Tentang Pendidikan, hal.
5.
[4] Milya Sari,
2012. “Usaha Mengatasi Problematika Pendidikan
Sains di Sekolah dan Perguruan Tinggi”. Jurnal Al-Ta’lim. Vol 1 No. 1.
[6] Mulyadi, Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mengembangkan Budaya Mutu, (Malang:
UIN-Maliki Press, 2010), hal.150.
[7] Inspektorat
Jendral Kemendikbud. Disampaikan oleh Drs.Kustri Waluyo, MM, dan Waluyo, S.IP,
M.Ak Pada Acara Bintek Program Penguatan Pendidikan Karakter Bagi Kepsek.
2016.
[8] USAID, Buku
Praktik yang Baik, Tata Kelola dan Manajmen Sekolah di SD/MI dan SMP/MTS, (Prepared for USAID/Indonesia, 2015), hlm. 6.
[9] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran ( Jakarta:
Bumi Aksara, 1995), hal.57.
[10] Mulyadi, Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mengembangkan Budaya Mutu (Malang:
UIN-Maliki Press, 2010), hal.102-103
[11]
Effendi, Empy
dan Hartono Zhuang, E-learning: Konsep dan Aplikasi, ed. 1(Yogyakarta:
Andi Offset, 2005), hlm.
[12] Agus Putranto,
Perancaan Sisitem E-Learning Berbasis Web dengan Analisis Swot Pada Sekolah
Menegah, (Umum, ComTech Vol.2 No. 2 Desember
2011: 646-661), hlm. 648.
[13] Ara Hidayat, Pengelolaan Pendidikan,... hal. 58.
[14]
Mulyadi, Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam
Mengembangkan Budaya Mutu, (Malang: UIN-Maliki Press, 2010), hal.150.
1121_BAGJA_WALUYA/Pengelolaan_Lingkungan_Hidup_untuk_Tk_SMA/BAB_4_SANITASI_LINGKUGAN.pdf,(Bab 4 Sanitasi, 2009), hal. 45. Diakses tanggal 1 Oktober 2017.
[16] Muhammad Yusuf
Hidayat, Peran Guru dalam Pemecahan Masalah Peserta Didik untuk MI/SD, (AULADUNA, VOL. 1 NO. 2 DESEMBER 2014: 229-240), hlm. 235.
[17] Bejo,
Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan Tahun 2016, Meningkatkan Mutu dan
Akses Pendidikan di Daerah 3T Melalui Superdiskon, (Pengawas SMP Pemerintah
Kab Sintang, 2016), hlm 4.
[18] Ibid.,
hlm, 5.
[19] E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003),
hal.3.
[20] USAID, Buku
Praktik yang Baik, Tata Kelola dan Manajmen Sekolah di SD/MI dan SMP/MTS, (Prepared for USAID/Indonesia, 2015), hlm. 6.
[21] Ahmad Fauzi, Analisa
Peranan Pemerintah Daerah Terhadap Anak Putus Sekolah di Kabupaten Wajo,
(Skripsi: Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Hasanudin
Makasar,2015), hlm. 3.
[22] Ibid.,
hlm. 45.
Posting Komentar