MENINGKATKAN MUTU SEKOLAH

STRATEGI PENINGKATAN MUTU SEKOLAH DASAR
Muhammad Sunandar Alwi[1]
Abstrak
Pengelolaan pendidikan adalah unit paling bawah untuk merencanakan program pendidikan. Membuat keputusan pengelolaan pendidikan harus dilakukan secara komprehensif untuk mengcover seluruh kebutuhan-kebutuhan sekolah, visi, misi, dan tujuan pendidikan sekolah. Dalam meningkatkan strategi mutu sekolah dasar memiliki tahapan-tahanpan diantaranya; pengelolaan sanitasi, menumbuhkan budaya baca, inovasi tata kelola, optimalisasi pembelajaran e-learning, revitalisasi komite sekolah, strategi mencegah dan menanggulangi putus sekolah, teknik pembelajaran efektif, menguatkan kompetisi manajerial kepala sekolah, menguatkan pembelajaran daerah tertinggal, terluar, dan tertinggal, serta peran pemerintah dan penggunaan gadget. Hasil strategi peningkatan mutu sekolah harus benar-benar dikelola secara benar dan baik. Diharapkan mampu mengoptimalkan kemajuan teknologi yang ada untuk memperkuat pendidikan dalam persaingan pasar.
Kata Kunci: Pendidikan, Sumber daya Manusia, Sekolah.
Pendahuluan
Lembaga pendidikan merupakan salah satu institusi sosial yang memiliki peran strategis dalam pembinaan kepribadian anak. Di dalam lembaga sekolah terjadi proses transformasi kebudayaan. Melalui pembelajaran sesuai kurikulum yang berisikan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Karena sekolah merupakan tempat atau lembaga pendidikan untuk belajar mengajar serta tempat menerima dan  memberi pelajaran.[2]
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[3]
Keberadaan lembaga pendidikan sekolah dituntut untuk mengembangkan mutu kehidupan dan martabat manusia. Namun pada kenyataanya saat ini mutu pendidikan di Indonesia sedang dalam kondisi rendah. Hal ini didasarkan atas indeks pembangunan pendidikan untuk semua education for all development index (EDI) di Indonesia menurun. Jika pada tahun 2010 Indonesia berada di peringkat 65%, pada tahun 2011 menurun ke peringkat 69%, dan pada tahun 2012 berada di peringkat 68%.  Menurut Human Development Index (HDI), pengukuran perbandingan dari harapan hidup, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia yang dilakukan oleh UNDP, di antara 187 negara di dunia Indonesia menempati urutan ke-124  pada tahun 2011.[4]
Pengelolaan suatu pendidikan atau pengelolaan sekolah merupakan pengelolaan pendidikan yang berada unit paling bawah untuk merencanakan program pendidikan dan membuat keputusan yang berada dalam tindakan-tindakan nyata yang dilakukan secara komprehensif untuk meng-cover seluruh kebutuhan-kebutuhan sekolah, visi, misi, dan tujuan pendidikan sekolah.[5]
Kini jelas bahwa lembaga pendidikan sekolah sangatlah patut ditingkatkan mutunya. Karena apabila tersebut tidak bermutu, maka pelaksanaan proses belajar mengajar tidak akan efektif dan efisien. Tidak efektif dan efisiennya dalam proses belajar mengajar akan menghasilkan prestasi hasil belajar yang kurang baik, yang berarti kurang bisa mencapai tujuan pendidikan yang di cita-citakan.
Pembahasan
1.      Menguatkan Kompetisi Manajerial Kepala Sekolah
Kegiatan manajemen menjadi tanggung jawab utama kepala sekolah, di samping kepemimpinan kepala sekolah untuk mencapai sekolah yang berkualitas. Dewasa ini banyak pimpinan kepala sekolah kurang mampu mengarahkan perubahan di sekolahnya sesuai tuntutan masyarakat. Padahal berbagai perubahan perlu di respon setiap sekolah dengan berdasarkan pada perubahan kebijakan bidang pendidikan, baik kurikulum, pembinaan keprofesionalan guru, personil pegawai, sarana dan prasarana, dan pembinaan siswa.
Dimensi kepemimpinan kepala sekolah sebagai bagian utama dari manajemen pendidikan untuk meningkatkan keefektifan dan efisiensi sekolah. Posisi kepala sekolah sebagai penanggungjawab kesuksesan atau kegagalan sekolah dalam melakukan pembelajaran akan sangat tergantung pada upaya mengoptimalkan peran dan tugas kepemimpinan secara efektif. Sisi penting dari organisasi sekolah adalah budaya organisasi yang dikembangkan kepala sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Keterkaitan perilaku pemimpin dengan budaya mutu sekolah (organisasi) dapat dilihat dari bagaimana pemimpin membentuk atau mempertahankan budaya mutu sekolah yang kuat (strength of quality cultural school).[6]
Jadi, peran pemimpin dalam membangun mutu sekolah sangat strategis, karena pemimpin merupakan orang yang akan menerjemahkan visi, misi serta tujuan organisasi yang harus dicapai dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Kepemimpinan berfungsi untuk mengarahkan semua sumber daya organisasi untuk melakukan perbaikan mutu yang berkelanjutan dalam mencapai tujuan organisasi tersebut.
2.      Revitalisasi Komite Sekolah
Komite sekolah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orangtua/wali peserta didik, komunitas sekolah, serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan. Komite sekolah sebenarnya telah ada sejak diberlakukannya Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Namun keberadaanya saat ini perlu dilakukan revitalisasi tugasnya, agar berdasarkan prinsip gotong royong oleh karena itu komite sekolah yang sudah ada sejak dulu perlu dilakukan perubahan. Sehingga ditetapkanlah Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 tentang komite sekolah.[7]
Masalah yang sering terjadi pada komite sekolah pada umumnya komite sekolah dibentuk secara instan untuk memenuhi syarat subsidi. Pada umumnya peran sebagai supporting agency lebih dominan karena semua pihak masih menganut paradigma lama. Sistem dan mekanisme pemilihan pengurus baru sering belum sesuai dengan AD/ART dan masih banyak bad practices.
Komite sekolah yang baik berperan memajukan sekolah, tidak hanya sekadar ikut tanda tangan saja. Peran aktif seperti itulah yang harus dilakukan oleh komite demi kelancaran dan kesuksesan program sekolah. Berikut adalah beberapa praktik yang dilakukan oleh komite sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran:
a.       Komite sekolah mendukung siswa yang kesulitan belajar. Siswa yang mengalami kendala belajar dengan berbagai faktor harus mendapat perhatian dan pendampingan khusus. Komite bersama kepala sekolah mencari permasalahan siswa dan di diskusikan bersama dengan siswa, orang tua, dan guru untuk mencari solusi.
b.      Komite sekolah juga mendukung siswa berprestasi dan memberikan pelayanan bagi siswa yang mendapatkan nilai baik. Dengan membuat progam seperti percepatan mutu. Mulai dari program percepatan mutu akademik dan program percepatan mutu non akademik.
c.       Memotivasi siswa yang sedang menempuh ujian seraya mengucapkan dan menyampaikan kata-kata motivasi agar anak menjadi semangat.
d.      Komite sekolah membantu sekolah memelihara lingkungan dan sarana prasarana serta membangun sarana pembelajaran yang dibutuhkan siswa. Komite sekolah bersama dengan kepala sekolah mengelola dana alokasi khusus (DAK) untuk perbaikan sekolah dasar.
Program kerja komite sekolah yang didasarkan atas kebutuhan sekolah dan dibicarakan secara terbuka dengan orang tua, pasti akan mendapat dukungan yang nyata. Keterbukaan pada saat perencanaan dan pelaksanaan menjadi kunci keberhasilan komite sekolah. Jadi fungsi komite sekolah adalah untuk menunjang keberhasilan sekolah.[8]
3.      Teknik Pembelajaran Efektif
Proses belajar mengajar menjadi salah satu aspek dari lingkungan lembaga pendidikan yang perlu diperhatikan. Karena keefektifan dan keefisien proses pembelajaran merupakan titik awal dalam menentukan keberhasilan pengajaran sehingga pelaksanaan pembelajaran sudah seharusnya ditingkatkan. Pendidik harus kreatif dalam mengelola pembelajaran dengan memilih dan menetapkan berbagi pendekatan, metode dan media pembelajaran yang relevan dengan kondisi peserta didik dan pencapaian kompetensi.[9]
Ada enam faktor yang mendukung keberhasilan pembelajaran, tiga faktor utama yaitu guru, siswa, dan kurikulum, dan tiga faktor sebagai tambahan yaitu sarana dan alat-alat pendidikan, pengelolaan serta lingkungan. Selain enam faktor diatas budaya sekolah juga berpengaruh dalam pendukung keberhasilan pengajaran. Budaya adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah, pendidik/guru, petugas tenaga kependidikan/administrasi, siswa, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas. Fungsi budaya sekolah merupakan kekuatan yang menggerakkan dan mengendalikan perilaku anggotanya dalam berkomunikasi dengan lingkungannya. Pada sekolah yang dikelola dengan baik, setiap orang dalam organisasi menganut budaya mereka.[10]
4.      Optimalisasi Pemebelajaran E-learning
Pemakaian teknologi informasi sudah sangat luas dalam berbagai bidang mulai, industri, kesehatan, pendidikan dan masih banyak lagi di Indonesia. Internet dengan keunggulannya dalam eliminasi batas ruang dan waktu membuka peluang yang sangat besar untuk perkembangan di dalam dunia pendidikan. 
Teknologi informasi khususnya internet meniadakan batasan ruang dan waktu dan memungkinkan para siswa untuk aktif mencari materi dan bahan pembelajaran secara mandiri. Dengan fasilitas yang ada pada internet guru dan murid bisa berinteraksi tanpa harus terbatas pada waktu pertemuan kelas. Metode pembelajaran E-learning adalah sebuah istilah di mana bentuk teknologi informasi diterapkan pada bidang pendidikan dalam bentuk sekolah maya. Effendi dan Zhuang menyatakan bahwa e-learning mengacu pada semua kegiatan pelatihan yang menggunakan media elektronik atau teknologi informasi.[11]
Peran guru belum mengetahui benar akan kegunaan sistem e-learning dan mayoritas siswa. Dengan adanya sistem e-learning guru bisa memberikan materi yang interaktif dan forum siswa menginginkan sistem yang memberikan kemudahan terhadap pengerjaan tugas.  Sistem e-learning yang dirancang diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan menjawab kebutuhan yang diharapkan oleh siswa dan guru. Dapat disimpulkan bahwa pengguna menginginkan proses interaksi antara guru dan murid melalui forum diskusi dan fokus pada kualitas materi yang interaktif sehingga dapat membantu proses belajar mengajar. Dengan adanya sistem e-learning, diharapkan para siswa dan guru bisa lebih meningkatkan pemahaman penggunaan internet untuk menunjang proses pendidikan.[12]
Menganalisis kebutuhan sistem e-learning bahwa sistem e-learning yang ada sifatnya tidak dapat menggantikan proses pembelajaran konvensional yang dilakukan di sekolah. E-learning menjadi suatu fasilitas dan cara alternatif yang dapat digunakan untuk menumbuhkan proses pembelajaran.
kendala utama yang dihadapi oleh para guru dan siswa dalam proses pembelajaran mandiri adalah kurangnya minat dari siswa dan motivasi untuk melakukan pembelajaran secara mandiri, sistem e-learning diharapkan bisa menumbuhkan minat siswa untuk mengeksplorasi potensi yang ada secara lebih dalam lagi dan merangsang siswa untuk belajar secara mandiri dengan teknologi internet yang ada.
Sistem e-learning yang dirancang nanti diharapkan bisa menghilangkan ketergantungan utama siswa dan guru terhadap text-book. Walaupun proses pembelajaran masih menggunakan landasan utama dari text-book, tapi sistem e-learning akan memperkaya metode pembelajaran di luar text-book yang akan menumbuhkan minat siswa untuk belajar secara mandiri.
5.      Inovasi Tata Kelola Sekolah
Pengelolaan suatu pendidikan atau pengelolaan sekolah merupakan pengelolaan pendidikan yang berada unit paling bawah untuk merencanakan program pendidikan dan membuat keputusan yang berada dalam tindakan-tindakan nyata yang dilakukan secara komprehensif untuk meng-cover seluruh kebutuhan-kebutuhan sekolah, visi, misi, dan tujuan pendidikan sekolah.[13]
Inovasi tata kelola  di sekolah dasar sangat tergantung pada berfungsi atau tidaknya manajemen sekolah. Pengelolaan sekolah juga harus membangun sebuah sistem yang di dalamnya mengutamakan kerjasama. Setiap sekolah harus dapat menciptakan budaya sekolahnya sendiri sebagai identitas diri, dan juga sebagai rasa kebanggaan akan sekolahnya. Dalam menciptakan tata kelola sekolah, kita hendaknya juga berpedoman pada misi dan visi sekolah yang tidak hanya mencerdaskan otak saja.[14]
Membangun tata kelola mutlak harus diikuti perubahan yang dilakukan oleh sekolah. Perubahan sekolah tidak hanya mencakup manajemen sekolah, namun mampu menciptakan iklim kondusif untuk perkembangan pribadi peserta didik, tidak hanya menjadi lembaga mekanis dan birokratis, tetapi menjadi lembaga pendidikan yang inovatif dan demokratik. Konsekuensi dari perubahan dimensi mutu adalah sekolah harus melakukan manajemen inovasi yang berupa adaptasi dan pembaharuan, terutama dalam pemimpin pendidikan.
6.      Pengelolaan Sanitasi Sekolah
Pengelolaan sanitasi di sekolah dasar menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 852/MENKES/SK/IX/2008 tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat adalah kondisi ketika suatu komunitas tidak membuang air besar (BAB) sembarangan, mencuci tangan pakai sabun, mengelola air minum dan makanan yang aman, mengelola sampah dengan benar, dan mengelola limbah dengan aman.
Sanitasi dasar adalah sanitasi minimum yang diperlukan untuk menyediakan lingkungan sehat yang memenuhi syarat kesehatan yang menitik beratkan pada pengawasan berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia Menurut Azwar, dalam TH Zafirah sanitasi lingkungan sebagai aktivitas yang diarahkan untuk meningkatkan dan mempertahankan standar kondisi lingkungan yang mendasar, dimana hal tersebut mempengaruhi kesejahteraan manusia. Lebih lanjut dijelaskan bahwa standar kondisi lingkungan tersebut terdiri dari; persediaan air bersih dan aman, pembuangan limbah, baik hewan, manusia, maupun limbah industri, makanan sehat, udara yag bersih dan aman, serta rumah yang bersih dan untuk ditinggali.[15]  
Bahwa pengelolaan sanitasi di sekolah dasar harus memiliki komponen diantaranya; air bersih, toilet/jamban, saluran pembuangan air limbah, sarana pembuangan sampah, dan cuci tangan. Sanitasi ditujukan untuk memenuhi persyaratan lingkungan yang sehat dan nyaman. Lingkungan yang sanitasinya buruk dapat menjadi sumber berbagai penyakit yang dapat mengganggu kesehatan manusia. Pada ahirnya jika kesehatan terganggu, maka kesejahteraannya juga akan berkurang. Karena itu, upaya sanitasi lingkungan menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesejahteraan dan dapat meningkatkan mutu pendidikan sekolah dasar.
7.      Strategi Mencegah dan Menanggulangi Tinggal Kelas dan Putus Sekolah
Keberhasilan pendidikan dalam mencegah dan menanggulangi tinggal kelas atau putus sekolah harus dimengerti masalah yang dialaminya. Sehingga tujuan pokok permasalahan dapat di ketahui dengan upaya pembedaan bantuan pemecahan masalah pada peserta didik tersebut. Agar tujuan tersebut tercapai secara efektif dan efisien, guru hendaknya menerapkan tahap-tahap pemecahan masalah yang sistematis.
Adapun tahap-tahap pemecahan masalah yang harus dilaksanakan dengan tujuan untuk menemukan siswa atau peserta didik yang diperkirakan mengalami masalah dan memerlukan bantuan.[16] Cara yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah:
a.       Meneliti kartu pribadi siswa, catatan kehadiran siswa, dan catatan-catatan siswa lainnya.
b.      Mengadakan wawancara dengan siswa tentang masalah yang dialaminya.
c.       Mengadakan pengamatan terhadap siswa, baik dalam kegiatan belajar di kelas maupun di luar kelas.
d.      Mengadakan home viset (kunjungan rumah) ke rumah siswa.
e.       Membandingkan hasil belajar siswa dengan potensi yang dimilikinya atau nilai-nilai rerata kelas atau nilai minimal yang harus dicapai siswa untuk setiap pelajaran.
Dengan cara-cara tersebut di atas, akhirya ditemukan seorang siswa yang diperkirakan bermasalah dan memerlukan bantuan pemecahan masalah. Dalam hal ini, keterampilan guru untuk menangani masalah siswa juga sangat penting seperti menguasan karakter siswa dan kemampuan menggunakan teknik konseling yang tepat sesuai dengan masalah siswa. Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa guru memiliki peran dan kedudukan yang strategis dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah dasar.
Oleh karena itu, tugas guru bukan hanya mengajar dalam arti mengalihkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, melainkan juga membimbing dalam arti membantu peserta didik memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Untuk itu, guru dituntut memahami dan terampil menetapkan tahap-tahap, langkah-langkah, dan teknik-teknik pemecahan masalah secara sistematis.


8.      Menguatkan Pembelajaran 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal)
Meningkatkan kualitas pendidikan di daerah 3T merupakan langkah penting untuk peningkatan mutu sekolah. Dalam rangka peningkatan mutu dan relevansi pendidikan, terus pula dilakukan peningkatan jumlah dan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan termasuk melalui penyediaan guru bantu, penyediaan materi bahan ajar terutama buku pelajaran dan peralatan peraga pendidikan, penguatan pendidikan kecakapan hidup dan penataan hubungan lembaga pendidikan.
Banyak guru yang mengajar bukan dari latar belakangnya. Padahal peran guru dalam konteks pembelajaran menuntut perubahan. Peranan guru sebagai penyebar informasi semakin kecil, tetapi lebih banyak berfungsi sebagai pembimbing, penasehat, dan pendorong. Peserta didik adalah individu-individu yang kompleks, yang berarti bahwa mereka mempunyai perbedaan cara belajar sesuatu yang berbeda pula. Proses belajar mengajar lebih ditekankan pada belajar daripada mengajar.
Dalam proses pendidikan, pengawasan atau supervisi merupakan bagian tidak terpisahkan dalam upaya peningkatan prestasi belajar dan mutu sekolah. Bahwa pengawasan atau supervisi pendidikan tidak lain dari usaha memberikan layanan kepada stakeholder pendidikan, terutama kepada guru-guru, baik secara individu maupun secara kelompok dalam usaha memperbaiki kualitas proses dan hasil pembelajaran. Hakikat substansi pengawasan yang dimaksud menunjuk pada segenap upaya bantuan supervisor kepada stakeholder pendidikan terutama guru yang ditujukan pada perbaikan-perbaikan dan pembinaan aspek pembelajaran.[17]
Serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran sering disingkat dengan superdiskon. Superdiskon merupakan upaya membantu guru-guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan pembelajaran. Dengan demikian, esensi superdiskon itu sama sekali bukan menilai unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, melainkan membantu guru mengembangkan kemampuan profesionalismenya.[18]
Pendampingan guru dengan superdiskon (supervisi, diskusi dan konsultasi) dirasakan efektif dan efisien dalam pencapaian tujuannya. Dengan demikian jika pengawas sekolah melakukan kegiatan pendampingan dengan supervisi yang artistik, dilanjutkan dengan diskusi dan memberikan ruang kepada guru untuk konsultasi dengan berbagai cara langsung tidak langsung, dengan memanfaatkan media komunikasi yang ada akan cepat meningkatkan kemampuan guru. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa pendampingan pembelajaran kolaboratif melalui superdiskon (supervisi, diskusi dan konsultasi) dapat meningkatkan mutu di daerah 3T.
9.      Menumbuhkan Budaya Baca 
Sebuah sekolah harus mempunyai misi menciptakan budaya sekolah yang menyenangkan, adil, kreatif, inovatif, terintegratif dan dedikatif terhadap pencapaian visi, menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi dalam perkembangan intelektualnya, jujur, kreatif, mampu menjadi teladan serta menjawab tantangan akan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang dapat berperan dalam perkembangan iptek. Perwujudan masyarakat yang bermutu tersebut menjadi tanggung jawab pendidikan, terutama dalam mempersiapkan peserta didik menjadi subyek yang makin berperan menampilkan keunggulan dirinya yang tangguh, kreatif, mandiri, dan profesional pada bidangnya masing-masing.[19]
Menumbuhkan budaya baca sekolah juga berpengaruh dalam pendukung keberhasilan dalam peningkatan mutu sekolah dasar. Budaya adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, trasdisi, kebiasan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikan oleh kepala sekolah, pendidik atau guru, petugas tenaga kependidikan, adminitrasi, siswa dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya baca sekolah merupakan ciri khas karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas. Fungsi budaya membaca di sekolah merupakan kekuatan yang menggerakkan dan mengendalikan perilaku anggotanya dalam berkomunikasi dengan lingkungannya.
Guru harus aktif dalam membantu dalam menumbuhkan minat baca pada siswa dengan berbagai cara diantaranya; membagi siswa tersebut dalam tiga kelompok. Pada kelompok pertama, yang duduk melingkar, dibagikannya buku-buku untuk dibaca. Buku buku dengan banyak gambar dan huruf yang cukup besar. Serta memberikan potongan-potongan huruf dan memberi kertas yang berisi sebuah kalimat.
Siswa-siswa dimintanya untuk menyusun huruf sesuai dengan kalimat yang tertera di kertas yang diberikannya. Kelompok yang ketiga diajak duduk di depan sebuah papan. Di papan ini tertera urutan huruf A sampai Z. Di bawahnya ada gabungan konsonan dan vokal yang bisa menghasilkan bunyi. Guru mengajak kelompok siswa tersebut untuk menyanyi berbagai lagu yang berhubungan dengan huruf-huruf. Setelah lagu selesai, dia mengetes satu dua anak untuk menyebutkan nama huruf. Dan ini harus didukung dengan berbagai pihak dari orang tua, masyarakat, lingkungan. Agar siswa bisa membaca untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik.[20]
10.  Penggunaan Gadget Bagi Siswa
Perkembangan gadget hingga sampai sekarang ini makin mudah diakses oleh semua kalangan dengan bentuk yang makin kompleks sehingga mudah dibawa kemana pun. Disatu sisi memang memiliki dampak positif yang dapat menghubungkan dengan teman, sanak saudara, atau menambah kenalan walaupun dengan jarak yang jauh dengan waktu yang relatif cepat. Dilain pihak gadget memiliki dampak negatif yang banyak juga akan tetapi itu semua kembali  lagi  bagi  penggunanya  untuk  selalu  mengontrol  diri  agar  jauh  dari dampak negatifnya.
Memberikan gambaran positif dan negatif tentang dampak teknologi pada anak. Dalam sesi ini orang tua hendaknya memperhatikan daily mood anak kita. Ini penting karena ada kalanya ketika kita hendak membicarakan sesuatu atau sekedar memberi pengertian atau saran tapi anak-anak cenderung merasa tak nyaman dan dihakimi. Tapi ketika kita paham kapan waktu yang tepat di situlah kita biasanya mengambil kesempatan untuk berbicara.
Jadwalkan kegiatan anak dalam menggunakan internet dengan memberi batasan tertentu sehingga mereka tidak tenggelam berjibaku seharian di depan gadget-nya. Dengan begitu aktivitas dunia maya dan nyatanya seimbang dan pembentukan karakter mereka sebagai individu sosial tetap dapat terealisasi. Bahwa fungsi gadget adalah untuk membantu penggunanya mempermudah dalam kehidupan berkomunikasi.
11.  Peran Pemerintah Daerah
Pengelolaan pendidikan berubah dari sistem sentralisasi ke sistem desentralisasi. Desentralisasi pendidikan berarti terjadinya pelimpahan kekuasaan dan wewenang yang lebih luas kepada daerah untuk membuat perncanaan dan mengambil keputusannya sendiri dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi di bidang pendidikan.[21]
Pemerintah Kabupaten dan Dinas Pendidikan dapat membuat program-program dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di daerah. Serta mendorong terjadinya proses otonomi baik pada pemerintah daerah maupun pada setiap satuan pendidikan agar memiliki kemampuan untuk mengelola dan menyelenggarakan pendidikan yang bermutu, adil dan merata bagi setiap masyarakat
Peranan pemerintah daerah adalah segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah sehubungan dengan tugas dan fungsi pemerintah daerah sebagai pelaksana pemerintahan di tingkat daerah dan pengambil kebijakan yang ada.[22] Hal ini dapat diukur dengan indikator-indikator sebagai berikut:
a.       Kebijakan pemerintah daerah yang berkaitan dengan peningkatan mutu sekolah, baik dalam bentuk peraturan daerah maupun pusat.
b.      Bantuan-bantuan yang diberikan oleh pemerintah daerah kepada masyarakat dan lembaga pendidikan di setiap jenjangnya. Baik berupa bantuan finansial dan motivasi-motivasi dalam menekankan pada pentingnya proses pendidikan.
Pemerintah daerah melakukan program dan kegiatan yang akan dilaksanakan kedepan dengan berpedoman pada program pembangunan daerah. Seperti program pelayanan administrasi perkantoran, program peningkatan sarana prasarana aparatur, program peningkatan disiplin aparatur. program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur, program perencanaan, pelaporan, kinerja dan keuangan.
Kesimpulan
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan. Pengelolaan sekolah juga harus membangun sistem yang di dalamnya mengutamakan kerjasama orang tua/wali, peserta didik, serta tokoh masyarakat. Serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya manusia untuk meningkatkan mutu sekolah. Peran pemerintah dalam meningkatkan pendidikan  dalam meningkatkan mutu sekolah dasar belum terlalu maksimal tetapi dapat di laksanakan dan berjalan dengan baik walaupun dilapangan masih terdapat banyak kendala dan juga keterbatasan sarana prasarana pendidikan.
Daftar Pustaka
Agus Putranto, 2011. Perancaan Sisitem E-Learning Berbasis Web dengan Analisis Swot Pada Sekolah Menegah, Jurnal Umum, ComTech Vol.2 No. 2 Desember 2011.
Ahmad Fauzi, 2015. Analisa Peranan Pemerintah Daerah Terhadap Anak Putus Sekolah di Kabupaten Wajo, (Skripsi: Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Hasanudin Makasar.
Ara Hidayat, 2012. Pengelolaan Pendidikan.Yogyakarta: Kaukaba.
Bejo. 2016. Simposium Guru dan Tenaga Pendidikan, Meningkatkan Mutu dan Akses Pendidikan di Daerah Teringgal 3T Melalui Superdiskon oleh Pengawasan Sekolah. Pemerintah Kabupaten Sintang Dinas dan Kebudayaan.
Direktorat Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama RI tahun 2006, Undang-Undang dan Peraturan Pemerintahan RI Tentang Pendidikan.
Effendi, Empy dan Hartono Zhuang. (2005). E-learning: Konsep dan Aplikasi, ed. 1. Yogyakarta:
Andi Offset.
Inspektorat Jendral Kemendikbud. 2016. Bintek Program Penguatan Pendidikan Karakter Bagi Kepsek. Disampaikan oleh Drs.Kustri Waluyo, MM, dan Waluyo, S.IP, M.Ak
Mulyadi, 2010. Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mengembangkan Budaya Mut. Malang: UIN-Maliki Press.
Muhammad Faturrohman. 2012, Implementasi Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Islam. Yogyakarta: Teras.
Muhammad Yusuf Hidayat, 2014. Peran Guru dalam Pemecahan Masalah Peserta Didik untuk MI/SD, (AULADUNA, VOL. 1 NO. 2 DESEMBER 2014.
Milya Sari, 2012. “Usaha Mengatasi Problematika Pendidikan Sains di Sekolah dan Perguruan Tinggi”. Jurnal Al-Ta’lim. Vol 1 No. 1.
USAID, 2015. Buku Praktik yang Baik, Tata Kelola dan Manajmen Sekolah di SD/MI dan SMP/MTS, Prepared for USAID Indonesia.




[1] Lulusan Sejarah & Kebudayaan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
[2] Muhammad Faturrohman. Implementasi Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Islam. (Yogyakarta: Teras, 2012), hal.1.
[3] Direktorat Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama RI tahun 2006, Undang-Undang dan Peraturan Pemerintahan RI Tentang Pendidikan, hal. 5.
[4] Milya Sari, 2012. “Usaha Mengatasi Problematika Pendidikan Sains di Sekolah dan Perguruan Tinggi. Jurnal Al-Ta’lim. Vol 1 No. 1.
[5] Ara Hidayat, Pengelolaan Pendidikan.  (Yogyakarta: Kaukaba, 2012), hal. 58.
[6] Mulyadi, Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mengembangkan Budaya Mutu, (Malang: UIN-Maliki Press, 2010), hal.150.
[7] Inspektorat Jendral Kemendikbud. Disampaikan oleh Drs.Kustri Waluyo, MM, dan Waluyo, S.IP, M.Ak Pada Acara Bintek Program Penguatan Pendidikan Karakter Bagi Kepsek. 2016.
[8] USAID, Buku Praktik yang Baik, Tata Kelola dan Manajmen Sekolah di SD/MI dan SMP/MTS, (Prepared for USAID/Indonesia, 2015), hlm. 6.
[9] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran ( Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hal.57.
[10] Mulyadi, Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mengembangkan Budaya Mutu (Malang: UIN-Maliki Press, 2010), hal.102-103
[11] Effendi, Empy dan Hartono Zhuang, E-learning: Konsep dan Aplikasi, ed. 1(Yogyakarta: Andi Offset, 2005), hlm.
[12] Agus Putranto, Perancaan Sisitem E-Learning Berbasis Web dengan Analisis Swot Pada Sekolah Menegah, (Umum, ComTech Vol.2 No. 2 Desember 2011: 646-661), hlm. 648.
[13] Ara Hidayat, Pengelolaan Pendidikan,... hal. 58.
[14] Mulyadi, Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mengembangkan Budaya Mutu, (Malang: UIN-Maliki Press, 2010), hal.150.
1121_BAGJA_WALUYA/Pengelolaan_Lingkungan_Hidup_untuk_Tk_SMA/BAB_4_SANITASI_LINGKUGAN.pdf,(Bab 4 Sanitasi, 2009), hal. 45.  Diakses tanggal 1 Oktober 2017.
[16] Muhammad Yusuf Hidayat, Peran Guru dalam Pemecahan Masalah Peserta Didik untuk MI/SD, (AULADUNA, VOL. 1 NO. 2 DESEMBER 2014: 229-240), hlm. 235.

[17] Bejo, Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan Tahun 2016, Meningkatkan Mutu dan Akses Pendidikan di Daerah 3T Melalui Superdiskon, (Pengawas SMP Pemerintah Kab Sintang, 2016), hlm 4.
[18] Ibid., hlm, 5.
[19] E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), hal.3.
[20] USAID, Buku Praktik yang Baik, Tata Kelola dan Manajmen Sekolah di SD/MI dan SMP/MTS, (Prepared for USAID/Indonesia, 2015), hlm. 6.
[21] Ahmad Fauzi, Analisa Peranan Pemerintah Daerah Terhadap Anak Putus Sekolah di Kabupaten Wajo, (Skripsi: Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Hasanudin Makasar,2015), hlm. 3.
[22] Ibid., hlm. 45.

Posting Komentar

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates