MENINGKATKAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA
MENURUT HASAN LANGGULUNG
Muhammad Sunandar Alwi
[1]
Abstrak
Kualitas sumber daya manusia merupakan modal dasar atau titik sentral yang
menjadi subyek pembangunan, karena pembangunan terutama ditentukan oleh
kualitas sumber daya manusianya, terlebih lagi era sekarang ini sebagai era
yang penuh dengan persaingan. Upaya pengembangan kualitas sumber daya
manusia dapat dilakukan melalui berbagai jalur diantaranya pendidikan.
Hasil penelitian ini adalah manusia yang dapat mengembangkan seluruh
potensi sumber daya yang dimilikinya, potensi jasmani dan potensi rohani.
Manusia tersebut sangat penting, sebagai karunia yang diberikan Allah untuk
menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi, inilah tujuan utama
atau akhir (ultimate aim) pendidikan Islam. Dalam meningkatkan
kualitas sumber daya manusia yaitu memiliki tujuan Islam yang mencakup
kesempurnaan agama. Dasar-dasar pokok pendidikan Islam yang menjadi
landasan kurikulum terdiri dari berbagai aspek diantaranya; keutuhan,
keterpaduan, kesinambungan, keaslian, bersifat ilmiah, bersifat praktikal,
kesetakawanan dan keterbukaan. Sedangkan setrategi yang lain adalah
pembersihan jiwa (tazkiyah al-nafs). Tazkiyah adalah bertujuan
membentuk tingkah laku baru yang dapat menyeimbangkan roh, akal, dan badan
seseorang sekaligus.
Kata kunci: Strategi, pendidikan, sumber daya manusia
Pendahuluan
Dalam pembangunan manusia adalah perencana, pelaku, pengendali serta tujuan
dari pembangunan. Oleh karena itu pengembangan kualitas sumber daya manusia
merupakan periotas utama yang harus ditingkatkan, sehingga dengan demikian
ia dapat memiliki segala kemampuan yang dibutuhkan dalam pembangunan dalam
segala bidang, khususnya pendidikan. Manusia yang berkualitas dapat
memanfaatkan segala potensinya dan mampu merebut peluang di masa depan bagi
kejayaan bangsa dan negara. Faktor manusia menjadi paling menentukan akan
berhasil dan gagalnya dalam persaingan global karena yang membedakan
kemampuan suatu bangsa dengan bangsa lainnya adalah kualitas manusianya.
Upaya pegembangan dan peningkatan sumber daya manusia berkualitas dapat
dilakukan melalui berbagai jalur, diantaranya melalui pendidikan.
Pendidikan adalah hal penting yang menjadi sorotan semua bangsa, karena
dengan pendidikan dapat diketahui bangsa tersebut bermartabat atau tidak.
Pendidikan banyak mengajarkan kita tentang pentingnya kesadaran diri dalam
berbenah, memperbaiki tingkah laku, mampu mempunyai nalar yang kritis dan
mampu membaca segala perubahan yang sekali waktu dapat terjadi dan menuntut
kita untuk segera berubah dan beranjak dari ketertinggalan.
Dalam hal pengembangan sumber daya manusia (SDM) seringkali kita
mengabaikan beberapa hal yang seharusnya menjadi perhatian serius tetapi
tidak bisa dilakukan oleh kita karena beberapa hal juga, keterbatasan yang
dimiliki oleh setiap individu. Menuntut individu lain untuk dapat mengatasi
berbagai macam persoalan yang terjadi dalam pendidikan. Pendidikan
merupakan jalur peningkatan kualitas sumber daya manusia yang lebih
menekankan pembentukan dasar manusia misalnya, keimanan, ketakwaan,
kepribadian, kedisiplinan dan kreativitas.
[2]
Menurut Wan Daud salah satu hal yang penting dilakukan adalah menggali
berbagai konsep yang shahih dan jelas yang dikembangkan oleh para pemikir
pendidikan yang memiliki otoritas keilmuan di bidangnya. Dari sini akan
dihasilkan suatu wacana pendidikan yang lebih dalam dan spesifik sehingga
dapat dijadikan salah satu landasan filosofis pendidikan. Wan Daud
menegaskan bahwa kajian mendalam tentang pemikiran para pemikir pendidikan
Islam tetap memiliki urgensi untuk dilakukan, sebab pemikiran tersebut
sangat mungkin memberikan pengaruh baik secara filosofis maupun praktis.
Kajian terhadap pemikiran ini juga penting untuk melengkapi kajian tentang
sejarah lembaga pendidikan dan biografi tokoh pendidikan Islam.
[3]
Pernyataan ini dapat dimengerti, sebab pemikiran para pemikir pendidikan
merupakan salah satu sumber yang dapat dijadikan dasar penyusunan berbagai
kebijakan di bidang pendidikan. Oleh karena itu, kajian seputar pemikiran
para tokoh pendidikan selalu urgen untuk dilakukan, terutama jika dikaitkan
dengan upaya menemukan sebuah formula pendidikan yang di gadang-gadang
dapat memberi solusi atas berbagai problem kemanusiaan dewasa ini.
Pendidikan memiliki nilai strategis dan mempunyai peran penting sebagai
suatu investasi masa depan. Karena secara teoritis, pendidikan adalah dasar
dari pertumbuhan ekonomi, sains dan teknologi. Untuk mengurangi kemiskinan,
ketimpangan, dan peningkatan kualitas peradapan manusia pada umumnya. Bahwa
di negara-negara maju sumber daya manusia menjadi prioritas utama dalam
pembangunan pendidikan. Sember daya manusia dipandang sebagai pilar utama
dalam pembangunan pendidikan. Kondisi ini berbeda dengan pendikan di
Indonesia yang dihadapkan dengan persoalan penyediaan sumber daya manusia.
[4]
Pendidikan merupakan peran strategis dalam pembinaan kepribadian manusia.
Di dalam pendidikan, baik sekolah maupun madrasah, terjadi proses
transformasi yang berlangsung melalui pembelajaran sesuai kurikulum yang
berisikan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang berlaku di
masyarakat.Pendidikan merupakan model pembentukan dan pewarisan nilai keagamaan dan
tradisi masyarakat. Artinya pendidikan dianggap berhasil ketika anak didik
sudah mempunyai sikap positif dalam beragama dan memelihara tradisi
masyarakat. Paradigma seperti itu harus direkontruksi agar sumber daya
manusia tidak acuh terhadap persoalan yang terkait dengan kepentingan
ekonomi, ketenaga-kerjaan dan persoalan lainnya dengan tetap memperhatikan
nilai-nilai etik maupun moral khususnya di Islam.
[5]
Tujuan pendidikan Islam adalah membantu anak didik agar tetap mendekatkan diri kepada Allah dalam segala hal. Ditambahkan pula dengan
pendapat Zakiyah Daradjat bahwa “Pendidikan Islam bertujuan membentuk
kepribadian seseorang menjadi insan kamil dengan pola takwa”.
[6]
Sedangkan tujuan pendidikan Islam yang utama adalah untuk membentuk akhlak
yang mulia. Kaum muslimin dari dahulu sampai sekarang sepakat bahwa
pendidikan akhlak yang sempurna adalah tujuan pendidikan yang sebenarnya.
Pembahasan
Memahami kondisi demikian, maka diperlukan konsep baru tentang manusia yang
mempunyai landasan yang kuat dan jelas, sehingga manusia dipandang dan
ditempatkan secara benar dalam artian sesunggunya. Untuk itu penelitian ini
memfokuskan pada pemikiran Hasan Langgulung mengenai konsep dan strategi
peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga persoalan kritis
kemanusiaan sekarang ini diharapkan mendapat solusi alternative dalam
pemecahan permasalahan pendidikan khusunya dalam pendidikan Islam.
Menurut Langgulung, istilah education (bahasa Inggris) yang
berasal dari bahasa Latin educere berarti memasukkan sesuatu,
yakni memasukkan ilmu kepada seseorang. Jadi, dalam pendidikan
sekurang-kurangnya terdapat tiga komponen yang terlibat, pelaku (manusia),
materi (ilmu) dan proses.
[7]
Pengertian etimologis pendidikan tersebut menunjukkan unsur-unsur kurikulum
di dalamnya, yaitu tujuan (menyampaikan pengetahuan), materi (ilmu), metode
(proses) dan evaluasi yang secara implisit terdapat di dalam perwujudan
tujuan.
Selanjutnya, Hasan Langgulung mengatakan bahwa dalam bahasa Arab terdapat
beberapa istilah yang mengandung makna pendidikan, yaitu ta’lîm, tarbiyyah dan ta’dîb. Hasan Langgulung lebih
cenderung menggunakan kata ta’dîb untuk menggambarkan muatan
pendidikan. Menurutnya, kata ta’lîm terlalu sempit, karena hanya
bermakna mengajar suatu ilmu kepada seseorang (kognitif), sedangkan kata tarbiyyah terlalu luas cakupannya, termasuk mendidik binatang dan
tumbuh-tumbuhan dalam pengertian memelihara, mengembang-biakkan, dan
sebagainya. Sementara kata ta’dîb menurutnya mengajar tidak hanya
terbatas pada transformasi pengetahuan, tetapi juga mendidik seseorang
menjadi sosok manusia yang sempurna. Selain itu, cakupan pendidikan yang
terkandung kata ta’dîb lebih spesifik untuk manusia.
[8]
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa Hasan Langgulung
memandang pendidikan adalah proses pengajaran yang bertujuan menyeluruh,
baik transformasi pengetahuan, pengahayatan dan penyadaran serta
pembentukan sikap atau prilaku. Dengan demikian, tujuan akhir pendidikan
menurut Hasan Langgulung adalah tercapainya berbagai ranah pengetahuan
tersebut. Di samping itu, pendidikan menurutnya adalah proses pengajaran
yang dilakukan oleh manusia kepada manusia, tidak terhadap makhluk hidup
yang lain.
Dalam bukunya pendidikan Islam suatu analisa Sosio-Psikologikal
Hasan Langgulung memberikan penjelasan mengenai makna pendidikan seperti
yang tercermin dalam kata ta’dib. Pertama, pemindahan nilai-nilai,
budaya, pengetahuan dari seseorang kepada orang lain, atau dari satu
generasi kepada generasi berikutnya. Mengenai hal ini, Hasan Langgulung
mengatakan:
Pendidikan dalam makna ini adalah proses pengajaran. Pengajaran berarti
pemindahan pengetahuan atau knowledge. Pendidikan seseorang yang
mempunyai pengetahuan kepada orang yang belum mengetahui. Ini bermakna
bahwa pengajaran itu pun sangat luas artinya, tidak hanya terbatas di bilik
sekolah saja, akan tetapi dapat berlaku di mana-mana, di dalam sekolah, di
rumah, tempat-tempat bermain, dalam pertemuan, kedai, di pasar dan
sebagainya. Jadi bila seseorang memindahkan pengetahuan yang dipunyainya
kepada orang lain yang belum mempunyai pengetahuan tersebut, maka
berlakulah proses pendidikan. Tetapi di dalam proses ini terkandung
kemestian bahwa prinsip-prinsip yang terdapat dalam pengetahuan itu
dimengerti dan diketahui sebab akibatnya.
[9]
Menurut Hasan Langgulung pendidikan dapat ditinjau dari dua segi, yaitu
dari sudut pandang masyarakat dan dari sudut pandang individu. Masyarakat
memandang pendidikan sebagai pewaris kebudayaan atau nilai-nilai budaya
baik bersifat intelektual, ketrampilan, dan keahlian. Karena generasi
sebelumnya ke generasi yang akan datang tersebut terpelihara kelangsungan
hidupnya atau tetap memelihara kepribadianya. Adapun dari sudut pandang
individu, pendidikan berarti upaya pengembangan potensi-potensi yang
dimiliki individu yang masih terpendam agar teraktualisasikan secara
kongkret, sehingga hasilnya bisa dinikmati individu dan masyarakat.
[10]
Dalam hal lain Hasan Langgulung mendefinisikan pendidikan Islam adalah
suatu proses spiritual akhlaq dan spritual yang berusaha membimbing manusia
dan memberinya nilai-nilai prinsip dan teladan ideal dalam kehidupan yang
bertujuan mempersiapkan kehidupan di dunia dan akhirat.
Strategi pembelajaran sebagai salah satu komponen pendidikan yang
terpenting juga mengalami perubahan. Strategi pembelajaran yang dituntut
saat ini adalah strategi pembelajaran yang berpusat pada aktivitas peserta
didik dalam suasana yang lebih demokratis, adil, manusiawi, memberdayakan,
menyenangkan, menggairahkan, menggembirakan, membangkitkan minat belajar,
merangsang timbulnya inspirasi, imajinasi, kreasi, inovasi, etos kerja, dan
semangat hidup.
[11]
Dinyatakan, bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan
diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,
memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang
yang cukup prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat,
minat, dan perkembangan fisik serta psikologi peserta didik. Dengan cara
ini, maka seluruh potensi manusia dapat tergali dan teraktualisasikan dalam
kehidupan. Pada gilirannya dapat menolong dirinya untuk menghadapi berbagai
tantangan hidup di era modern yang penuh persaingan.
Apabila dikaitkan dengan kontek kontemporer yang masih dalam pencarian jati
dirinya, maka konsep pemikiran Hasan Langgulung dapat menjadi keilmuan yang
perlu dikritisi bahkan dikaji kembali dalam aplikasinya pada reakitas
pendidikan di Indonesia pada umumnya. Hasan Langgulung sesuai dengan kiprah teoretik dan praktiknya di dunia
pendidikan berkehendak untuk mewujudkan pendidikan agama Islam yang lebih
dari sekedar masalah-masalah ubudiyah dan fiqhiyah
semata. Ia juga ingin mendudukkan pendidikan Islam yang bukan sekedar
memenuhi aspek normatif, tetapi juga historis. Pendidikan agama Islam tidak
hanya membahas tentang suatu ajaran-ajaran, tetapi membahas pula peristiwa
dengan memperlihatkan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang, dan
pelaku dari peristiwa.
Kata strategi adalah turunan dari kata dalam bahasa Yunani, strategos. Adapun strategos dapat diterjemahkan sebagai
komandan militer pada zaman demokrasi di Athena. Setrategi adalah
pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan,
perencanaan, dan eksekusi sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu. Di
dalam strategi yang baik terdapat koordinasi tim kerja, memiliki tema,
mengindentifikasi faktor pendukung yang sesuai dengan prinsip-prinsip
pelaksanaan gagasan secara rasional dan efisien dalam pendanaan. Oleh
karena itu harus memiliki taktik untuk mencapai tujuan secara afektif.
Strategi dibedakan dengan taktik yang memiliki ruang lingkup yang lebih
sempit dan waktu yang lebih singkat, walaupun pada umumnya orang sering
mencampuradukan kedua kata tersebut. Dalam pengertian lain strategi yaitu
suatu pola penataan potensi sumber daya agar dapat memperoleh hasil sesuai
rancangan dan tujuan instruksional secara optimal.
2. Sumber daya manusia
Manusia merupakan makhluk yang memiliki kemampuan istimewa dan menempati
kedudukan tertinggi di antara makhluk lainnya yakni menjadi khalifah
(wakil) Tuhan di muka bumi (Q.S. al-Baqarah: 30). Dengan demikian
Islam memandang manusia sangat mulia dengan sumber ajaranya yaitu al-Quran.
Ia telah memotret manusia dalam bentuknya yang utuh dan menyeluruh.
Setiap manusia memiliki potensi dasar, para filsof berpendapat tentang
potensi apa yang perlu dikembangkan oleh manusia. Melalui pendekatan
historis Hasan Langgulung menjelaskan bahwa di Yunani kuno satu-satunya
potensi manusia yang harus dikembangkan di kerajaan Sparta adalah potensi
jasmaninya, tetapi sebaliknya di kerajaan Athena yang dipentingkan adalah
kecerdasan otaknya.
[12]
Demikian pula kesimpulan yang diambil oleh Abuddin Nata berdasarkan
pendapat para ahli filsafat pendidikan bahwa, secara umum manusia memiliki
dua potensi yaitu potensi jasmani dan potensi rohani.
[13] Berbeda dari klasifikasi di atas bahwa beberapa ahli para filsafat
pendidikan menguraikan potensi rohani manusia ke dalam beberapa bagian,
sebagaimana pendapat Hasan Langgung yang menyatakan bahwa potensi rohani
manusia itu terdiri dari empat unsur pokok yaitu, roh, qalb, nafs dan akal.
[14]
Klasifikasi potensi dasar manusia diantaranya:
a. Potensi jasmani
Secara jasmaniah manusia adalah makhluk yang paling berpotensi untuk
dikembangkan dibanding makhluk lainnya. Manusia dianugrahi rupa dan fisik
yang bagus serta memiliki anggata tubuh untuk membantu dan mempermudah
aktivitasnya. Untuk mengetahui potensi jasmani Hasan Langgulung menyebutkan
beberapa hal mengenai potensi jasmani yang diambil dari Al-Qur’an yaitu al-basyar. Al-basyar adalah merupakan bentuk material
yang memakan nasi dan berjalan di jalan-jalan dalam hal ini semua anak adam
sama dan serupa.
Kata al-basyar muncul dalam 35 tempat dalam Al-Qur’an diantaramya
termasuk 25 tempat tentang rasul-rasul dan Nabi-Nabi sebagai manusia (basyar) dengan menegaskan keserupaan, dalam hal ini ia sebagai
manusia dan sifat-sifat kebendaannya diantara mereka (Nabi-Nabi) dengan
manusia-manusia yang lain.
[15]
Manusia dalam pengertian basyar adalah manusia yang seperti tampak
pada lahiriyahnya, mempunyai bangunan tubuh yang sama, makan dan minum dari
bahan yang sama yang ada di alam ini, dan oleh pertumbuhan usianya kondisi
tubuhnya akan menurun, manjadi tua dan akhirnya ajalnya akan menjempunya.
[16]
b. Potensi rohani
Manusia merupakan makhluk yang istimewa dibanding makhluk yang lainnya,
karena disamping memiliki dimensi fisik yang sempurna, ia juga memiliki
dimensi roh ini dengan segala potensinya. Menurut Hasan Langgulung kata
insan bertemu dengan kata ins dalam pengertian sama dengan
pengertian yang sama dengan pengertian awal yang berlawanan dengan
keganasan (tawahhusyi). Bahwa kemudian masing-masing mempunyai pengertian khusus yang membedakannya
satu sama lain. Pengertian insan dalam Al-Qu’ran selalu berhadapan denganal-Jin yang selalu bermakna kebuasan dan tersembunyi. Sedangkan insan menurutnya keinsanannya bukan disebabkan karena ia tergolong
dalam golongan insan, bukan juga sekedar manusia yang makan dan berjalan.
Jadi kemanusian (insaniyah) itu mengandung perkembangan yang dapat
memperbolehkan ia mendapat kedudukan khalifah di bumi, memikul tanggung
jawab dan amanah, sebab dialah yang khusus menerima ilmu, bayan,
akal, dan membedakan antara yang baik dan buruk. Kata insan
memiliki ciri khusus yang membedakan ia dari seorang individu dari jenis
manusia atau insan itu.Dengan demikian potensi ruhani manusia terdiri dari
bebrepa unsur pokok, yaitu; fitrah, ruh, qalb, nafs, dan akal.
[17]
3. Kurikulum Pendidikan Islam
Pemikiran pendidikan Islam adalah gagasan-gagasan tentang upaya sadar dan
terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami,
mengimani, bertaqwa, berakhlak mulia, dan mengamalkan ajaran agama Islam
dari sumber utama yaitu Al-Qur’an dan Hadis, melalui kegiatan bimbingan,
pengajaran latihan, serta penggunaan pengalaman.
[18]
Pengertian pendidikan Islam di atas, menjadi landasan pemikiran pendidikan
Islam yang digagas Hasan Langgulung. Secara detail, pemikirannya dapat
ditelusuri dari konsepnya mengenai kurikulum pendidikan Islam. Oleh karena
itu, penelusuran pemikiran pendidikan Hasan Langgulung dapat dilakukan
dengan menelaah konsep kurikulum yang dikemukakannya. Menurutnya, dengan
mengutip pendapat Al-Syaibany, kurikulum adalah:
Sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga, dan kesenian
yang disediakan oleh sekolah bagi murid-murid di dalam dan di luar sekolah
dengan maksud menolongnya untuk berkembang secara menyeluruh dalam segala
segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan
pendidikan. Hasan Langgulung mengatakan bahwa definsi tersebut hanya
sebagai contoh. Sebab menurutnya masih banyak definisi lain tentang
kurikulum yang dikemukakan oleh ahli-ahli pendidikan.
[19]
Berdasarkan dua definisi di atas, menurut Hasan Langgulung kurikulum
meliputi tujuan pendidikan, materi yang diajarkan, metode atau cara
mengajar dan evaluasi hasil belajar.
[20]
Tujuan pendidikan berorientasi pada perwujudan sosok manusia yang ingin
dihasilkan melalui proses pendidikan. Aspek materi berisi pengetahuan,
informasi-informasi, data, aktivitas. Pengalaman-pengalaman seperti itu
tertentu yang diberikan kepada anak untuk dipahami, dihayati dan
dipraktekkan. Bagian metode pembelajaran memuat cara-cara mengajar yang
dipakai oleh seorang guru untuk mendorong anak didik melakukan kegiatan
belajar dan membawanya kearah yang sesuai dengan target kurikulum.
Sedangkan evaluasi pembelajaran adalah cara yang digunakan oleh guru dalam
mengukur dan menilai hasil belajar anak didik berdasarkan target yang ingin
dicapai dalam kurikulum.
Dalam istilah lain, Hasan Langgulung menyimpulkan bahwa kurikulum berisi
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan: “mengapa?”, “apa?”, “bagaimana?” dan
“hasilnya apa?”. Pertanyaan “mengapa?” dijawab dan dijabarkan dalam bentuk
rumusan tujuan pendidikan yang ingin dicapai, pertanyaan “apa ?” terjawab
dari meteri atau bahan yang akan disampaikan, pertanyaan “bagaimana ?”
merujuk kepada metode atau cara mengajarkan materi, sedangkan pertanyaan
“hasilnya apa?” berhubungan dengan evaluasi hasil belajar.
[21]
Namun demikian, Hasan Langgulung seperti yang tersurat pada definisi kedua
di atas, tidak membatasi pengertian kurikulum hanya pada
pengalaman-pengalaman di sekolah, tetapi lebih dari itu ia meletakkan
lingkungan dan faktor-faktor luar sekolah sebagai bagian tidak terpisahkan
dari kurikulum. Hal ini berarti bahwa keberhasilan proses pendidikan, yakni
mewujudkan sosok manusia seperti yang diharapkan tidak hanya ditentukan
oleh pendidikan di sekolah, tetapi juga oleh faktor lingkungan, baik
lingkungan keluarga maupun masyarakat.
4. Tujuan akhir pendidikan Islam
Tujuan akhir pendidikan Islam itu dapat dinyatakan sebagai: (1) Persiapan
dunia dan akhirat, (2) Perwujudan sendiri sesuai dengan pandangan Islam,
(3) Persiapan menjadi warga Negara yang baik, dan (4) Perkembangan yang
menyeluruh dan berpadu bagi pribadi pelajar (tidak split personality).
[22]
Menurut tokoh progrsivisme John Dewey sebagaimana dikutip Suyudi,
mengatakan bahwa pendidikan merupakan keharusan dalam kehidupan manusia.
Ini berarti bahwa pendidikan merupakan kebutuhan hakiki, karena manusia
tidak bisa hidup secara wajar tanpa adanya proses pendidikan.
[23]
Pada umumnya pendidikan diartikan sebagai pemberian bantuan orang dewasa
kepada yang belum dewasa melalui pergaulan, dengan tujuan agar yang
dipengaruhi kelak dapat melaksanakan tugas hidupnya sebagai manusia secara
mandiri dan bertanggung jawab.
Oleh karena itu, menurut Hasan Langgulung pendidikan dapat dilihat dari
tiga segi; segi individu, masyarakat, dan individu dan masyarakat, atau sebagai
interaksi antara individu dan masyarakat. Dari segi individu, ia memandang
bahwa manusia di dunia ini mempunyai kemampuan yang bersifat umum,
kemampuan melihat dan mendengar, berbeda-beda sesuai derajat masing-masing.
Dalam pengertian ini pendidikan didefinisikan sebagai proses penemuan dan
pengembangan kemampuan. Jadi pendidikan adalah proses menampakkan yang
tersembunyi pada anak. Aspek yang tersembunyi tersebut adalah kecerdasan,
pribadi, kreatifitas, dan lain-lain.
[24]
Dalam konteks ini, menurut Hasan Langgulung, pendidikan Islam mencakup tiga
hal yakni pengembangan potensi, pewarisan budaya, dan interaksi antara
potensi dan budaya.
[25]
Pendidikan Islam sebagai pengembangan potensi pada dasarnya telah diberikan
oleh Allah kepada manusia, sebagaimana firman Allah dalam QS. al-Hijr ayat
29 di atas, di mana sifat sifat Tuhan yang disebut dalam al-Qur’an
disimbulkan dengan nama-nama yang indah (alAsmau al-Husna) yang
menyatakan Tuhan sebagai Maha Pengasih (al-Rahman), Maha Penyayang
(al-Rahim), dan lain-lain. Bagi Hasan Langgulung kalau sifat Tuhan
yang berjumlah 99 itu diaktualisasikan pada diri manusia, ia merupakan
potensi yang agung.
[26]
Jika sifat-sifat Tuhan yang berjumlah 99 diaktualisasikan pada diri dan
perbuatan manusia niscaya ia merupakan potensi yang tak terkira banyaknya.
Ini menggambarkan bagaimana komplikasinya potensi yang dimiliki manusia
sehingga jika ia diletakkan di sebuah lingkungan tanpa sumber hidup sama
sekali, ia tetap survive, karena potensi yang dimilikinya itu.
Sehingga potensi manusia sebagai karunia Tuhan itu haruslah dikembangkan,
sedang pengembangan potensi sesuai dengan petunjuk Tuhan itulah yang
disebut ibadah. Dengan demikian, jika tujuan penciptaan manusia adalah agar
beribadah kepada Sanga Pencipta dalam pengertian pengembangan
potensi-potensi, maka akan bertemu dengan tujuan tertinggi (ultimate aim) pendidikan Islam untuk menciptakan manusia sebagai ‘abid (penyembah Allah).
[27]
Tugas manusia, bukan saja sekedar kesanggupan untuk mengembangkan
sifat-sifat Tuhan pada dirinya, tapi lebih jauh adalah kesanggupan manusia
untuk mengurus sumber-sumber yang ada di bumi.
[28]
Pendidikan Islam sebagai warisan budaya, adalah suatu upaya bagaimana memindahkan unsur pokok peradaban dari suatu generasi ke generasi
berikutnya supaya identitas umat tetap.
[29]
Sedangkan pendidikan Islam sebagai interaksi antara potensi dan budaya,
menurutnya sangat terkait dengan konsep fitrah. Fitrah dapat dipandang dari
dua sisi yaitu fitrah sebagai potensi yang melengkapi manusia sejak lahir
dan fitrah sebagai din yang menjadi tiang tegaknya peradaban Islam, kedua
hal tersebut bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.
[30]
Ia menegaskan, jika pendidikan dianggap penting bagi individu dan
masyarakat secara umum yang berlaku sepanjang zaman, maka masyarakat Islam
berkewajiban memberi perhatian penuh pada pendidikan. Jadi, pendidikan
Islam berusaha mengembangkan manusia seutuhnya, seperti yang berlaku pada
system pendidikan lainnya.
Dalam kaitannya dengan Islam, interaksi antara potensi dan budaya ini lebih
menonjol sebab baik potensi yang berupa roh Allah yang disebut fitrah.
Berdasarkan tujuan terciptanya manusia, maka tujuan pencarian dan
pengembangan ilmu pengetahuan dalam pendidikan adalah untuk mengenali dan
meneguhkan kembali syahadah manusia terhadap Tuhan.
Dalam hal ini, pendidikan haruslah merupakan suatu proses pemberi bantuan
kemudahan atau bimbingan bagi seorang anak manusia untuk mengenali dan
meneguhkan kembali syahadah primordialnya kepada Allah SWT. Dalam pengertian ini, mengenali berarti menyadarkan manusia untuk mengetahui
bahwa ia akan kembali kehadapan Allah, dan ia harus mempertanggungjawabkan
segala bentuk perbuatannya kepada Allah SWT. Dalam konteks fungsi
penciptaan manusia, implikasi esensi manusia sebagai Abdi Allah terhadap
pendidikan Islam adalah sebuah upaya untuk memberikan bantuan kemudahan
bagi peserta didik dalam mengaktualitaskan daya-daya al-jism dan al-ruh ke arah ketundukan dan kepatuhan yang sepenuhnya kepada
Allah SWT.
Kesimpulan
Manusia yang dapat mengembangkan seluruh potensi sumber daya yang
dimilikinya. Secara umum potensi manusia diklarifikasikan kepada potensi
jasmani dan potensi rohani. Hasan Langgulung melihat potensi yang ada pada
manusia tersebut sangat penting sebagai karunia yang diberikan Allah untuk
menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi, inilah tujuan utama
atau akhir (ultimate aim) pendidikan Islam. Potensi-potensi yang
diberikan kepada manusia pada dasarnya merupakan petunjuk (hidayah) Allah yang diperuntukan bagi manusia supaya ia dapat
melakukan sikap hidup yang serasi dengan hakikat penciptaanya.
Strategi pendidikan menurut Hasan Langgulung dalam meningkatkan kualitas
sumber daya manusia yaitu memiliki tujuan Islam yang mencakup kesempurnaan
agama. Dasar-dasar pokok pendidikan Islam yang menjadi landasan kurikulum
terdiri dari berbagai aspek diantaranya; keutuhan, keterpaduan,
kesinambungan, keaslian, bersifat ilmiah, bersifat praktikal, kesetakawanan
dan keterbukaan. Prioritas dalam tindakan yang meliputi penyerapan semua
anak-anak yang mencapai usia sekolah karena bagian jalur perkembangan,
meninjau kembali materi atau metode pendidikan, pengukuhan pendidikan
agama, adminitrasi, perencanaan dan kerja sama regional dengan antar negara
di dalam dunia Islam.
Daftar Pustaka
Abdul Latif
, Pengembangan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas Menghadapi Era
Pasar Bebas,
Jakarta: DPP HIPPI, 1996.
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan,Jakarta: Logos Wacana Ilmu,
1997.
________, Akhlak Tasawuf, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996.
A Malik Fajar, Madrasah dan Tantangan Modernitas, Bandung: Mizan,
1999.
Langgulung, Hasan, Asas-Asas Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka
Al-Husna Baru, 2003, terbit pertama tahun 1985.
________, Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam, Bandung:
PT.AlMa’arif, 1995, ditulis tahun 1979.
________, Kreativitas dan Pendidikan Islam Analisis Psikologi dan Falsafah,
Jakarta : Pustaka A-Husna, 1991.
________, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan,
Jakarta : Pustaka Al-Husna, 1989, terbit pertama tahun 1984.
________, Pendidikan Islam dalam Abad 21, (edisi revisi), Jakarta
: Pustaka AlHusna Baru, 2003, ditulis pertama tahun 1988 dan direvisi tahun
2002.
________, Pendidikan Islam Suatu Analisa Sosio-Psikologikal, Kuala
Lumpur: Pustaka Antara, 1979.
________, Peralihan Paradigma dalam Pendidikan Islam dan Sains Sosial,
Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002.
Jhon Vaizey, Pendidikan di Dunia Modern, Jakarta: Gunung Agung,
1980.
Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Kalam
Mulia. Cet. Keenam, 2010.
Suyudi, Pendidikan Dalam Perspektif al-Qur’an, Jakarta: PT.
Grafindo Persada, 2005.
Wan Mohd. Nor Wan Daud,
Filsafat dan Praktek Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib Al- Attas,
Bandung: Mizan, 1998.
Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara,
1996.
[1]
Lulusan Sejarah & Kebudayaan Islam UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta
[2]
Abdul Latif
, Pengembangan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas Menghadapi
Era Pasar Bebas,
(Jakarta: DPP HIPPI, 1996), hlm. 11.
[3]
Wan Mohd. Nor Wan Daud,
Filsafat dan Praktek Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib
Al-Attas,
(Bandung: Mizan, 1998), hlm. 17-19.
[4]
Jhon Vaizey, Pendidikan di Dunia Modern, (Jakarta: Gunung
Agung, 1980), hlm. 41.
[5]
A Malik Fajar, Madrasah dan Tantangan Modernitas,
(Bandung: Mizan, 1999), hlm. 9.
[6]
Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi
Aksara, 1996), hlm. 29.
[7]
Hasan Langgulung, Pendidikan Islam Abad ke 21, Cet. III, Edisi Revisi,
(Jakarta: Pusta Al-Husna Baru, 2003), hlm. 2.
[8]
Ibid.,
hlm. 2-3.
[9]
Hasan Laggulung, Pendidikan Islam: Suatu Analisa Sosio-Psikologikal,
(Kuala Lumpur: Pustaka Antara, 1979), hal. 3. Lihat juga bukunya,
Pendidikan dan Peradaban Islam: Suatu Analisa Sosio-Psikologi,
(Hasan Langgulung, Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1985), hal. 3-4.
[10]
Hasan Langgulung,
Peralihan Paradigma dalam Pendidikan Islam dan Sains Sosial,
(Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002), hlm. 1.
[11]
Disebutkan dalam Peraturan Pemenintah Republik Indonesia Nomor 19
Tahun 2005 Bab IV, Pasal 19.
[12]
Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam, hlm. 261-262.
[13]
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan, (Jakarta: Logos Wacana
Ilmu, 1997), hlm. 35.
[14]
Hasan Langgulung, Pendidikan Abad 21, Edisi Revisi, hlm.
270.
[15]
Hasan Langgulung, Pendidikan Abad 21, Edisi Revisi, hlm.
289.
[16]
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 1996), hlm. 260.
[17]
Hasan Langgulung, Pendidikan Abad 21, Edisi Revisi, hlm.
290.
[18]
Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam. (Jakarta:
Kalam Mulia. Cet. Keenam, 2010), hlm. 21.
[19]
Hasan Langgulung, Pendidikan Abad 21, Edisi Revisi, hlm.
295.
[20]
Hasan Langgulung, Manusia Pendidikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan,
hlm. 171.
[21]
Hasan Langgulung,
Peralihan Paradigma dalam Pendidikan Islam dan Sains Sosial,
hlm. 242.
[22]
Hasan Langgulung,
Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan
, hlm. 60.
[23]
Suyudi, Pendidikan Dalam Perspektif al-Qur’an, (Jakarta:
PT. Grafindo Persada, 2005), hlm. 260.
[24]
Hasan Langgulung,
Kretivitas dan Pendidikan Islam Analisi Psikologi dan Falsafah,
(Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1991), hlm. 358.
[25]
Ibid.,
hlm. 359.
[26]
Hasan Langgulung, Pendidikan Islam Indonesia Mencari Kepastian Historis,
(Jakarta: P3M, tt), hlm. 160.
[27]
Hasan Langgulung, Pendidikan Islam dalam Abad 21, hlm.
162.
[28]
Ibid.,
hlm. 52.
[29]
Hasan Langgulung,
Kretivitas dan Pendidikan Islam Analisi Psikologi dan Falsafah,
hlm. 368
[30]
Ibid.,
hlm. 368.
Posting Komentar