SEKILAS RIWAYAT HIDUP DAMARDJATI SUPADJAR
A.
Latar
Belakang Kehidupan
Biografi sudah barang tentu merupakan unit sejarah
yang sejak zaman klasik telah ditulis. Sejak itu biografi termasuk bidang
sejarah yang populer dan senantiasa sangat menarik serta banyak dibutuhkan.
Untuk memahami dan mendalami kepribadian seseorang dituntut pengetahuan latar
belakang lingkungan sosio-kultural di mana tokoh itu dibesarkan, bagaimana
proses pendidikan formal dan informal yang dialami. Serta watak-watak orang
yang ada disekitarnya.[1]
Rekontruksi biografis amat memerlukan imajinasi yang besar agar dapat dibuat
agar biodata tidak menyimpang dari faktor historistitas.
Unsur imajinasi harus menghasilkan konstruk atau
bangunan karena kontruk tidak mungkin sama dengan gambaran lengkap atau potret
dari apa yang sesungguhnya terjadi. Unsur-unsur yang sama-sama dicakup oleh
kedua hal tersebut ialah fakta-fakta mengenai sejumlah peristiwa yang terjadi
dalam suatu waktu tertentu. Oleh karena setiap kontruk senantiasa dituntut
menghasilkan sesuatu yang utuh dan bulat baik itu naratif maupun deskripif.[2]
Penulisan biografi secara ilmiah oleh sarjana sejarah Indonesia belum banyak
dilakukan. Padahal sejarah konon adalah penjumlahan biografi para tokoh.[3]
Tokoh atau aktor (intelektual), sebagaimana pendapat Arnold Toynbee, penting
artinya sebagai kekuatan penggerak dalam suatu kurun waktu.[4]
Dari sinilah studi biografi menjadi penting karena sesungguhnya didapati unsur
sejarah yang paling akrab. Biografi tidak hanya pemahaman tentang seseorang
secara personal dan mendalam, melainkan sosok pribadi yang dikaji ditempatkan
sebagai pelaku yang secara langsung mempersepsi, menjalani, merasakan
kekecewaan atau bahagia terhadap kehidupan.[5]
Sebagai karya sejarah yang berbentuk biografi,
tulisan ini ingin menulusuri kesejarahan Damardjati Supadjar. Mulai dari
kelahirannya, 30 Maret 1940, masa kecil yang berda di daerah kelahiranya
Grabag, Magelang. Masa remaja dihabiskan di Yogyakarta, sampai dengan wafat
beliau tanggal 17 Febuari 2014 di Yogyakarta. Dan dimakamkan di daerah
kelahiranya Grabag, Magelang. Biografi tentu saja tidak bermaksud menulis semua
aspek kehidupan seorang tokoh. Persoalan waktu yang demikian panjang akan
dibingkai dalam satu tinjauan kultural, yakni sisi pemikiran beliau tantang Filsafat
Islam Jawa.[6]
1. Masa
Kecil
Rekontuksi ini akan berusaha
menjawab pertanyaan sejauh manakah masa kecil Damardjati Supadjar berpengaruh
nantinya, dalam kehidupan pribadi maupun intelektualnya. Freudian mengatakan
bahwa the childhood is the father of man,
dan pertumbuhan kedewasaan adalah penghalusan dari masa kecil yang telah
terbentuk itu.[7] Demikian pentingnya masa
kecil, tentu saja tidak pantas diabaikan sebagai suatu fase yang menempati
posisi strategis dalam alam kosmis Jawa. Karena Damardjati Supadjar dibesarkan
dikalangan orang desa Jawa dan menjadi penilaian sejauh manakah seorang anak
memahami Jawa.[8] Dengan hubungan antara
anggota keluarga, bapak dengan ibuk, bapak dengan anak, ibu dengan anak, anak
lelaki dengan saudara perempuan atau saudara lelakinya sedemikian terjaganya.[9]
Oleh Franz Magnis Suseno
disebut berada dalam posisi antara rasa isin,
sungkan, dan tresno.[10] Peregangan atau
tarik-menarik dalam komposisi yang tepat sebagai prinsip keselarasan dari
ketiganya itulah pada tingkatan yang lebih luas menjadi dasar kebudayaan Jawa letak
individu dalam masyarakat. Damardjati Supadjar sebagai anak Jawa, berada dalam
satu penghayatan kejawaan semacam itu. Peneliti beranggapan bahwa Damardjati
Supadjar dibesarkan dalam keluarga yang penuh nuansa kepriyayian. Akan dilihat
beberapa variable yang mengindikasikan nilai-nilai kepriyayian tersebut: gelar,
gaya hidup, pendidikan, hiburan-rekreasi, hubungnna keluarga, kesenian,
pakaian, dan kebiasaan makan.[11]
Damardjati
Supadjar yang lahir di lereng utara Gunung Merbabu, tepatnya
di desa paling utara Kabupaten Magelang. Yaitu Desa Losari Kecamatan Grabag,
Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, 30 Maret 1940 M.[12]
Pada tahun tersebut sedang terjadi gejolak dalam Negeri seperti
pemberontakan-pemberontakan di Kota besar. Ia pun mendapat dampak peristiwa
tersebut, ia harus berkali-kali pindah sekolah yang di karenakan peperangan
yang terjadi pada saat itu. Terlihat pada pendidikan Damardjati Supadjar saat
kelas 1 di tempat kelahiranya dan berpindah sekolah pada kelas 2 di Madiun, dan
berpindah tempat lagi pada kelas 3 di SD atau Sekolah Rakyat (SR)[13]
Budi Utomo, Yogyakarta. Sedangkan kelas 4, 5, dan 6 pindah sekolah lagi yaitu
kembali kekampung kelahiranya di Losari.[14]
Damardjati Supadjar menghabiskan masa kecilnya di
desanya Losari, dalam lingkungan desa Jawa, lingkungan-lingkungan itulah yang
membagun kepribadian Damardjati Supadjar dan pada akhirnya ia harus
meninggalkan lingkungan itu. Di lingkungan keluarga, pendidikan yang
ditanamkan oleh kedua orang tuanya sangat kuat. Damardjati Supadjar sejak kecil
sudah sering menyertai Bapak (almarhum) untuk nyekar[15]
ke makam seseorang yang dipercayai sebagai prajurit Diponegoro dari kesatuan
Wirapati. Makam itu berada pada semacam bukit kecil, yang dari situ bukan saja
bisa melihat jauh, melainkan sambil lalu juga menerawang ke masa-masa silam disela-sela
kisah kepahlawanan yang telah lalu. Disamping jangkah kedepan sesuai dengan
yang dijangkah oleh orang-orang tua.[16]
Damardjati
Supadjar memperoleh kesan yang mendalam pada usia 7 tahun, yakni ketika orang
tuanya memberi pegangan hidup “manakala lapar dan tidak dapat makan, maka
makanlah do’a. Pada masa berikutnya menjadi sebuah ajaran yaitu: madhang ora madhang tetep padhang.[17]
Menginjak SLTP di SMP II Magelang, lalu pindah di SMP Kanisius (Pangudi Luhur)
Ambarawa. Sementara SLTA di SGA[18]
Semarang, karena berikatan dengan dinas, sehingga meringankan beban keluarga. Sejak muda dia sudah menekuni dunia pendidikan. [19] Setelah mengenyam bangku sekolah lanjutan, pada tahun
1968 Damardjati
Supadjar mendapatkan izin dari orang tua untuk meneruskan pendidikanya dan cita-citanya itu terwujud ketika akhirnya ia dapat masuk
kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM). Ia
masuk Fakultas Peadagogik Fakultas (SPF) jurusan Filsafat.
2. Masa Mahasiswa
Dimana masa dewasa dihabiskan
di Yogyakarta dengan menempuh studi di Fakultas paedagogik UGM, yang
sekarang menjadi Fakultas Psikologi UGM.[20]
Melanjutkan di fakultas
filsafat angkatan pertama yang sebelumnya bertempat di wijilan.[21] Pribadi Damardjati Supadjar
yang luwes mampu membuat orang mengajaknya tidak menjadi musuh meski
berseberangan secara ideologis. Dengan cara itulah ia mengatasi batas-batas
keyakinan.
Fakultas filsafat Universitas
Gadjah Mada didirikan pada tanggal 18 Agustus 1967, dengan surat keputusan direktur
jenderal perguruan tinggi nomor 90/1967
Tanggal 7 Agustus 1967, dan pelaksanaan penerimaan mahasiswa serta perkuliahan dimulai
pada tahun 1968. Sebelum didirikannya fakultas filsafat secara mandiri, di
lingkungan Universitas Gadjah Mada telah ada fakultas sastra, paedagogik, dan filsafat.
Berdasarkan peraturan pemerintah No. 37 tahun 1950 pasal 5 ayat (1) huruf (d)
tertanggal 14 Agustus 1950 dinyatakan bahwa di UGM fakultas sastra, paedagogik
dan filsafat terdiri dari: bagian sastra, bagian paedagogik, dan bagian filsafat
yang disingkat SPF. Fakultas tersebut diresmikan pada tanggal 23 Januari 1951,
dengan ketuanya Prof. Drs. Abdullah Sigit.[22]
Berdasarkan keputusan menteri
pendidikan pengajaran & kebudayaan No. 5375 tanggal 15 September 1955,
dibentuklah gabungan fakultas umum dan filsafat. Penggabungan kedua fakultas tersebut
mengingat kedudukan fakultas filsafat di dalam Universitas Gadjah Mada, dan kedudukan
ilmu filsafat yang sentral di dalam ilmu pengetahuan. Pimpinan gabungan
fakultas umum dan filsafat periode 1958-1962 adalah: dekan Prof. Drs.
Notonagoro, S.H., Sekretaris Drs. Koento Wibisono. Pada tahun 1961 dengan surat
keputusan menteri PTIP No. 32/1961 tanggal 8 Agustus 1961, fakultas filsafat
ditiadakan dan kemudian disusul dengan surat keputusan menteri PTIP No.
144/1962 tertanggal 27 November 1962 yang menyatakan bahwa fakultas umum dihapuskan.
Berdasarkan surat
keputusan Rektor UGM No. 1/1963 tanggal 25 Januari 1963, dibentuklah biro
penyelenggaraan kuliah-kuliah khusus di UGM, disingkat BPKKC, untuk
menyelenggarakan tugas-tugas yang semula ditangani oleh gabungan fakultas umum
dan fakultas filsafat yang telah dibubarkan. Tugas BPKKC adalah memelihara dan
menyelenggarakan kuliah: filsafat, ideologi Negara, pendidikan Agama, studium
generale di lingkungan Universitas Gadjah Mada. Tugas BPKKC telah dilaksanakan
mulai tahun 1962. Pimpinan BPKKC 1963
–1966 adalah: Ketua Drs. KoentoWibisono, Wakil Ketua Drs. Soejono Soemargono.
Setelah fakultas filsafat UGM berdiri kembali pada berdasarkan SK Direktur
Jenderal Perguruan Tinggi tanggal 7 Agustus 1967 Nomor: 90/1967, dan, dengan
Keputusan Rektor UGM tanggal 23 September 1969 No. 44/1969 BPKKC diintegrasikan
kedalam fakultas filsafat yang berlaku sejak Januari 1969.[23]
Ketika UGM membuka Fakultas Filsafat, Damardjati
Supadjar sebagai mahasiswa angkatan pertama pada tahun 1968. Walaupun tidak
begitu lancar, Damardjati Supadjar memantapkan untuk melanjutkan kuliah lagi.
Walaupun sejak tahun 1950-60-an sebenarnya telah terjadi radikalisasi kampus.
Tahun itu terjadi ledakan jumlah mahasiswa sampai jumlah ratusan ribu. Persepsi
bertambah banyaknya mahasiswa serta prospek adanya pemilihan umum 1955, yang
menyebabkan partai-partai politik tertarik pada dunia universitas.[24] Di kampus sendiri, aliran politik itu sangat
kelihatan. Mereka banyak mempengaruhi kehidupan kampus melalui
kegiatan-kegiatan kampus dengan munculnya nama-nama seperti Sunardi (tokoh
Lekra). Dosen yang menjadi ketua Himpunan Sarjana Indonesia Dr. Boesono Wiwoho[25] dan masih banyak lagi.
Meski demikian, Damardjati
Supadjar menawarkan historiografi[26] baru dalam dalam penulisan
sejarah Indonesia. Sejarah tidak dalam pengertian akurasi data, namun penekanannya
lebih pada pengalaman. Dalam historiografi Indonesia tentang “The Indonesia
Killings”, orang yang mengungkap dampak
aksi tersebut terhadap para korban dan keluarganya adalah H. J. C. Princen dari
lembaga pembelaan hak asasi manuisa. Laporanya disajikan dalam harian kami
tertanggal 26 februari 1969.[27]
Damardjati Supadjar selesai di fakultas filsafat pada tahun
1978 dengan judul Unsur-unsur Kefilsafatan Sosial Serat Sastra Gendhing,
sebuah karya yang banyak mengupas pikiran-pikiran filsafat yang dibangun oleh
Sultan Agung.[28] Untuk membiayai kuliahnya pada masa
sulit, dia terpaksa menjadi sopir angkutan yang menuju kampus UGM.[29] Mungkin masa-masa yang
cukup sulit ini dilaluinya sambil kuliah di fakultas filsafat. Damardjati
Supadjar tinggal di Desa Kancilan, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta bersama istri
yang bernama Sri Winarni dan keempat putra-putrinya.[30]
Pada saat
pemerintah Belanda menawarkan beasiswa, Damardjati Supadjar menerima dan melanjutkan
progam S2 dan Pra S3 di Rijk Universiiteit Laiden
Belanda. Disini
ia memusatkan diri pada pendalaman konsep ketuhanan menurut filsafat proses
tahun 1986. Atas bimbingan Prof. Dr.C.A Van Peursen. Dan tercapailah gelar doktor
filsafat di Pascasarjana UGM pada tahun 1990[31]. Dengan disertasi Konsep Ketuhanan menurut Filsafat Proses
yang kini di terbitkan menjadi buku.
Pribadi
Damardjati Supadjar yang luwes[32] itu (nice personality), dan melalui
kelakar-kelakarnya mampu membuat orang yang mengajaknya tidak menjadi musuh
meski berseberangan secara ideologis. Dengan cara itulah ia mengatasi
batas-batas keyakinan (beyond idelogy)
dan tanpa sadar melakukan desakralisasi politik untuk tunduk dibawah kaki
kebudayaan dan secara esoteris terhadap kemanusiaan[33]. Terlalu
terburu-buru kiranya untuk menyimpulkan posisi Damardjati Supadjar semacam itu.
Namun setidaknya ungkapan fakta itu dapat dikatakan sebagai benih esoterisme
Damardjati Supadjar.
3. Masa Mengajar
Suatu peristiwa penting yang
memberi akibat pada sesorang untuk mengorientasikan kembalinya peranannya. Efek
yang ditimbulkan bisa positif atau negatif.[34] Karena berusaha ditemukan
apakah pernah dialami oleh Damardjati Supadjar dalam hal penting kehidupan
seseorang.[35] Mengenal Damardjati Supadjar
sebagai cendikiawan berdasarkan teoritis. Peneliti melihat gejala
kecendikiawanan ada pada diri Damardjati Supadjar yang bersifat relasional:
antara sistim pengetahuan atau modal simbolik, modal ekonomik, dan modal kultural.
Cendikiawanan berada di tapal batas antara modal dan kekuasaan disuatu sisi dan
masyarakat di sisi yang lain. Dalam relasi ini mempertahankan apa yang disebut
sebagai budaya yang mengkritik tentang tulisan.[36]
Bahwa cendikiawan sebagai
orang yang kegiatan utamanya bukanlah mengejar tujuan-tujuan praktis, tetapi
mencari kebahagian dalam mengolah seni, ilmu, atau renungan metafisik. Mereka
adalah para ilmuwan, filosof, seniman, dan ahli metafisika yang mendapat
kepuasan dalam penerapan ilmu pengetahuan. Kaum cendikiawan dalam posisi itu
menyakini adanya “kebenaran universal”. Meski dalam perkembangannya makna
kebenaran universal mendapat bantahan. Karena kebenaran itu adalah sesuatu teks
oleh karena itu menyamakan kaum intelektual dengan agamawan sebagai penyampai
teks kebenaran dari Tuhan.[37]
Bersama dengan rekan-rekanya
Damardjati supadjar mendirikan Pusat Studi Pancasila (PSP). Berdiri sejak 12 Juli 1995 ditetapkan
melalui Keputusan Rektor Universitas Gadjah Mada Nomor: UGM/87/3966/UM/01/37.
PSP memiliki core research tentang kebangsaan, ideologi, citizenship, sejarah
bangsa, dan pembudayaan nilai-nilai Pancasila. Kegiatan utama PSP mencakup
penelitian, kajian, training, dan diskusi rutin. Sebagai lembaga riset yang
berbasis pada ideologi, PSP memiliki peran yang strategis dalam mewacanakan,
mengembangkan, dan membudayakan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar kehidupan
berbangsa dan bernegara baik secara akademik maupun secara praktis. Pada periode pertama Prof.
Dr. Koento Wibisono menjadi pemimpin periode 1995-2002 dan barulah Damardjati
Supadjar menjabat sebagai pemimpin Pusat Studi Pancasila (PSP) periode
2002-2006.[38]
Karyanya meliputi Filsafat,
artikel, esai-esai dan kebudayaan. Terkhusus ia menaruh perhatian pada
kebudayaan Jawa, karena karyanya dianggap mempunyai karakter yang khas kental
dengan nuansa Islam dan ilmu Jawa karena jarang dimiliki oleh orang lain pada
umumnya. Sosok Damardjati Supadjar dalam berbagai bidangnya inilah yang
menjustifikasi demikian signifikan sehingga ia perlu dikaji lebih mendalam. Dimata
kolega dosen dan mahasiswanya ia dikenal sebagai pribadi yang ramah, tenang,
murah senyum, memancarkan kewibawaan, namun tetap sederhana. Setiap kata yang
diucapkan berbobot atau bermakna, walaupun bila kita sudah akrab dengan ia kita
akan dapat membedakan bahwa dibalik kata-katanya yang kelihatan serius tersebut
sebenarnya tersembunyi banyak humor dan hikmah.
Dimata publik ia sering
dianggap sebagai penasehat kraton Yogyakarta
Hadiningrat, terutama dalam hal spiritual.[39] Damardjati
Supadjar juga sering disebut pakar filsafat dan budaya.[40] Khusunya filsafat Jawa dan
Islam. Damardjati Supadjar merupakan tokoh kejawen[41] dimana buah pemikiranya
tidak terlepas dari keadaan masyarakat pada saat itu. Pemikiranya lebih jauh
masuk kepada ajaran tasawuf Islam yang dikodifikasikan[42] dengan ajaran wulang wuruk
kejawen sehingga ia merupakan tokoh yang memerankan seorang muslim dan disisi
lain ia juga memerankan orangg Jawa yang tidak meninggalkan kejawaanya. Dimana
ajaran tersebut lebih bersifat tersirat dari pada tersurat.[43]
Pada tanggal 31 Mei
2005 Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menganugrahkan
gelar Guru Besar kepada Prof. Dr. Damardjati Supadjar.[44] Ada beberapa
pendapat dan saran mengenai gelar kehormatan yang hendak diberikan. Namun bahwa
gelar yang paling baik adalah yang dilangsungkan pada peristiwa itu. Kata Guru
mengandung makna yang melebihi arti yang umumnya dikenal, jadi bukan sekedar
orang yang mata pencahariannya atau profesinya sebagai pengajar saja. Kata guru
berasal dari bahasa sansekerta yang mengandung arti penting, bobot, dan
bermartabat yang telah menjadi kosata kata banyak bahasa dunia.[45]
Dalam pidato
pengukuhan jabatan guru besar fakultas filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM)
Damardjati Supadjar dengan tema Ketuhanan Yang Maha Esa dan Rukun Islam
mengatakan kita secara bersama bisa melakukan koreksi diri secara sistematik. Maka kita kembali ketitik
balik sangkan-paraning-dumadi, sambil meningkatkan mutu maqom
pamoring-kawula-gusti relevan dengan refernsi timur dan barat, bahkan dengan
jiwa agama awal-akhir lahir batin.[46]
Pada usia 70
tahun Damardjati Supadjar pensiun dari mengajar di Fakultas Filsafat. Dalam
rangka itu Fakultas Filsafat dan pusat studi pancasila (PSP) berencana
menggelar orasi budaya dan peluncuran buku pada tanggal 30 Maret 2010.[47] Terjadinya
proses pewarisan ingatan atau pewacanaan secara sistemik, sadar atau tidak oleh
komunitas di sekelilingnya. Ingatan adalah perekayasaan, atas apa yang ingin
dan tidak ingin diingat, bukan tindakan orang per orang dalam syaraf mereka
masing-masing namaun sebagai tindakan sosial.
Dalam momentum
peringatan tersebut, yang terjadi kemudian adalah arus bolak balik antara pihak
yang memproduksi ingatan dan pihak yang meresepsinya. Ingatan itu barangkali
tidak menemukan referensinya di masa lalu, sehingga demikian ia melakukan
distorsi. Bisa juga sebaliknya sehingga tersepakati bentuk ingatan itu di dalam
komunitas. Pihak yang kritis tidak akan menerima begitu saja produksi wacana
itu, disesuaikan dengan tingkat kepentingan dan modal ingatan yang ada dalam
benak mereka sebagai rujukan.[48]
Mengikuti
pandangan Heideggerian bahwa sejarah bukan hanya narasi tentang masa lalu,
melainkan sejarah sebagai sesuatu yang hidup pada masa kini, urain ini member
paparan sinkronik bagaimana Damardjati Supadjar dihadirkan, sebagai sebuah
ingatan. Pendapat tentang peringatan oleh Pierre Nora biasanya digunakan
sejarawan yang mengkaji tentang tragedi kemanusiaan oleh kekuasaan Negara dan
produksi wacana atas tragedi tersebut terhadap masyarakat. Sebagaimana kajian
yang dilakukan Budiawan terhadap wacana anti-komunisme dan politik ingatan Orde
Baru.[49]
4. Aktivitas
Damardjati Supadjar di Luar Mengajar
Kegiatan Damardjati
Supadjar tidak terbatas hanya pada mengajar, tetapi ia juga rajin menulis buku,
artikel-artikel untuk surat kabar dan media massa seperti, SKH Kedaulatan
Rakyat dan Minggu Pagi tulisanya
mencakup bidang-bidang ilmu pengetahuan, politik, agama dan sebagainya. Yang
sering di tuangkannya pemikiran Damardjati Supadjar yang di kenal dengan
istilah rubrik “Mawas Diri”, dan
“Wulang-Wuruk”.[50] Sosok santun ini
juga dikenal publik sebagai penceramah diberbagai forum, budayawan, narasumber
diskusi majlis taklim keagamaan, guru besar di salah satu perguruan tinggi,
penulis, dan narasumber di seminar-seminar, radio maupun koran.
Ada juga di media
elektronik dia juga aktif dalam acara rubrik “Kaca Diri” distasiun UNISI FM sementara bagi mereka yang
gemar menyaksikan televisi, Damardjati Supadjar juga sering muncul di RBTV
Yogyakarta satu minggu sekali di hari minggu.[51] Mengenal sosok
Damardjati Supadjar adalah pakar Filsafat barat dan timur khususnya, jawa
dengan basis ilmu Psikologi. Dengan ciri khasnya Damardjati Supadjar menggunakan bahasa guyonan vulgar dengan
bahasa Jawa disertai othak- athik ghatuk[52] bahasa.
Sebagai ilmuwan
yang berfilsafat atau sebaliknya, Damardjati Supadjar berperan baik sebagai
fasilitator ketika ia menjabat ataupun tidak, memberi sumbangan pemikiran terutama
dengan karya tulis dan penelitiannya dan masih banyak lagi. Di mata publik
Yogyakarta ia sering dianggap sebagai penasehat Sri Sultan HB X tetapi ia
membantah dengan humor, yang betul, saya konsultan. Artinya konkonane Sultan
(orang yang sering diperintah Sultan). Selama ini masyarakat mengenal
Damardjati Supadjar sebagai pakar filsafat dan budaya.[53]
Sejak beberapa
waktu terakhir, Damardjati Supadjar menjalani perawatann karena sakit yang
dideritanya yaitu gejala stroke. Setelah ikut memperkaya peradapan umat manusia
melalui tulisan, pengajaran pergaulan, dan hidupnya sendiri selama 74 tahun.
Damardjati Supadjar akhirnya meninggal dunia, Senin 17 Febuari 2014 pukul 17.05 wib di kediamannya, Jl. Kaliurang
Km 5,6 CT.T/12, Kancilan, Ngagilk, Sleman, Yogyakarta, karena sakit yang
dideritanya. Sebagai salah seorang filsuf besar di Jawa, jenazah almarhum dikebumikan
di pemakaman keluarga yang terletak di kampung halaman Desa Wates, Losari,
Grabag, Magelang, Jawa Tengah.[54]
Damardjati Supadjar
meninggalkan seorang istri, Sri Winarti, serta empat orang anak, yaitu Norma
Diani, Garba Pradapa, Bawa Mahastu, dan Ajar Nuhoni. Wafatnya guru besar
filsafat ini meninggalkan duka yang mendalam bagi masyarakat, kerabat, dan
seluruh keluarga besar. Tatkala kehidupan adalah di
luar hidup itu sendiri, kehidupan pasca kematian lebih untuk orang-orang yang
ditinggalkan, bukan pada siapa yang meninggal. Meski ironi, peringatan itu
adalah dokumentasi sebuah bentuk hubungan, memori yang sifatnya relasional.
Deskripsi diatas
merekontruksi relasi itu, selain materi dari ingatan itu, cara orang
mengingatnya juga menjadi penting, dan menyampaikan peristiwa adalah sama
pentingnya dengan menghimpun sejarah melalui fakta-fakta. Kisah apapun yang
muncul dari ingatan itu bukanlah fiksi, bukan pula penyimpangan dari kebenaran
melainkan bagian dari kebenaran dalam suatu versi tertentu dalam bentuk yang
lain.[55]Dengan demikian
gema, roh dan spirit Damardjati Supadjar sebagai pribadi maupun pemikir bisa
terasakan dan tergali dengan baik relasi itu hadir melalui keluarga, sahabat
dan teman kerjanya. Suatu rasa hati yang kuat berupa kasih sayang, cinta akan kangen
hadirnya sosoknya Damardjati Supadjar.
[1] Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi
Sejarah, (Yogyakarta: Ombak, 2016), hlm. 86-87.
[2] Ibid, hlm. 102.
[3] Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, (Yogyakarta: Tiara
Wacana, 2003), hlm. 203.
[4] Ronald H Nash, Ideas of History, Vol I, (New York: E P.
Dutton & Co. Inc, 1969), hlm. 175-219.
[5] M. Nursam, Pergumulan Seorang Intelektual Biografi Soedjatmoko, (Jakarta:
Gramedia, 2002), hlm.9.
[6] Ahmad Nashih Luthfi, Biografi Umar Kayam, Manusia Ulang-Alik,
(Yogyakarta: Eja Publisher, 2007), hlm. 7.
[7] Sumadi Suryabrata, Psikologi Kepribadian, (Jakarta:
Rajawali Pres, 1983), hlm.167.
[8] Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa (Jakarta: Balai Pustaka,
1994), hlm. 4.
[9] Ahmad Nashih Luthfi, Biografi Umar Kayam, Manusia Ulang-Alik,
(Yogyakarta: Eja Publisher, 2007), hlm. 23.
[10] Franz Magnis Suseno, Etika Jawa, Sebuah Analisis Filsafat Tentang
Kebijaksanaan Jawa, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999), hlm.168.
[11] Kerangka ini didapat dari,
Sartono Kartodirjo dkk, perkembangan
peradapan priyayi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1993)
[12] Damardjati Supadjar, Wulang
Wuruk Jawa : Mutiara Kearifan Lokal (Yogyakarta: Penerbit Dammar-Jati, 2005), hlm. 163
[13] Sekolah Rakyat ialah sekolah
yang berdiri pada masa Jepang dan berubah menjadi sekolah dasar (SD) setelah
Indonesia merdeka.
[14] Damardjati Supadjar, Mawas
Diri, Dari Diri yang Tanggal, Ke Diri yang “Terdaftar, Diakui, Disamakan” yakni
Diri yang Terus Terang dan Terang Terus (Yogyakarta : Philosophy Press,
2001), hlm. 383.
[15] Nyekar ialah ritual berdoa dan
mengunjungi makam keluarga yang telah meninggal, dengan menabur bunga diatas
makam sambil membaca doa.
[16] Damardjati Supadjar, Nawangsari (Yogyakarta: Media Widya
Mandala, 1993)
[17] Damardjati Supadjar, Filsafat Ketuhanan (Yogyakarta: Fajar
Pustaka, 2003), hlm. 222.
[18] SGA ialah Sekolah Guru Atas
[19] Damardjati Supadjar, Mawas
Diri, Dari Diri yang Tanggal, Ke Diri yang “Terdaftar, Diakui, Disamakan” yakni
Diri yang Terus Terang dan Terang Terus (Yogyakarta : Philosophy Press,
2001), hlm. 383.
[20] Damardjati Supadjar, Filsafat
Ketuhanan (Yogyakarta : Fajar Pustaka, 2003), hlm.222
[21] Sahid Susanto dan Bambang
Purwanto, Universitas Gadjah Mada dari
Masa ke Masa Menuju Otonomi Perguruan Tinggi, (Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 2001), hlm. 16-19.
[24] Lihat; Francois Raillon, Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia,
Pembentukan dan Konsolidasi Orde Baru 1966-1974, (Jakarta: LP3ES, 1985),
hlm. 9.
[25] Ahmad Nashih Luthfi, Biografi Umar Kayam, Manusia Ulang-Alik,
(Yogyakarta: Eja Publisher, 2007), hlm. 44.
[26] Historiografi ialah
ilmu yang mempelajari praktik ilmu sejarah. Hal ini dapat diwujudkan dalam
berbagai bentuk, termasuk mempelajari metodologi sejarah dan perkembangan
sejarah sebagai suatu disiplin akademik. Istilah ini dapat pula merujuk pada
bagian tertentu dari tulisan sejarah.
[27] Lihat Robert Cribb, Pembantain PKI di Jawa dan Bali 1965-1966,
(Yogyakarta: 2003), hlm. 324.
[28] Damardjati Supadjar, Mawas
Diri, Dari Diri yang Tanggal, Ke Diri yang “Terdaftar, Diakui, Disamakan” yakni
Diri yang Terus Terang dan Terang Terus (Yogyakarta : Philosophy Press,
2001), hlm. 383.
[29] https://id.wikipedia.org/wiki/Damardjati_Supadjar, diakses pada tanggal 18
November 2016, pukul 15.15
[30] Damardjati Supadjar, Mawas
Diri, Dari Diri yang Tanggal, Ke Diri yang “Terdaftar, Diakui, Disamakan” yakni
Diri yang Terus Terang dan Terang Terus (Yogyakarta : Philosophy Press,
2001), hlm. 384.
[31] Damardjati Supadjar, Filsafat
Ketuhanan,(Yogyakarta : Fajar Pustaka Baru, 2001), hlm .223.
[32] Luwes ialah pantas dan menarik; elok menurut KBBI
[33] Ahmad Nashih Luthfi, Biografi Umar Kayam, Manusia Ulang-Alik,
(Yogyakarta: Eja Publisher, 2007), hlm. 45.
[34]
Daniel Dhakidae, Cendikiawan dan
Kekuasaan dalam Negara Orde Baru, (Jakarta: Gramedia, 2003).
[35]
Normon K. Denzin, Interpretive Biography,
(California : Sage Publications, Inc,: 1989), hlm. 10 dan 70.
[36]
Julian Benda, The Betrayal of
Intellectuals, (Boston : The Beacon Press, 1959), hlm.19.
[37] Ahmad
Nashih Luthfi, Biografi Umar Kayam,
Manusia Ulang-Alik (Yogyakarta: Eja Publisher 2007), hlm.11.
[39] Damardjati Supadjar, Wulang-Wuruk
Jawa,(Yogyakarta : Dammar- Jati, 2005), hlm. 164.
[40] Heri Santoso, Berfilsafat ala Prof. Dr. Damardjati
Supadjar,(Yogyakarta: Pustaka Resmedia, 2010), hlm.9.
[41] Akhmad Charis Zubair (dkk.), Universitas Jagad Raya: Fakultas Kehidupan –
Jurusan Jalan Lurus, (Jakarta: GAIA Books, 2005), hlm. 165.
[42] Kodifikasi ialah menyusun, membukukan,dan mencatat hasil strandardisasi yang dapat
berupa tata bahasa
[43] Muhmmad Fauzan “Pandangan
Kejawen Tentang Tuhan Menurut Damardjati Supadjar” (Skripsi Fakultas Ushuluddin
UIN Sunan Kalijaga, 2009), hlm. 17.
[44] Damardjati Supadjar, “Ketuhanan
Yang Maha Esa dan Rukun Ihsan” Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada
Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, (Yogyakarta: 31 Mei 2005)
[45] M. Nursam, dkk, Sejarah
Yang Memihak ‘Mengenang Sartono Kartodirdjo, (Yogyakarta: Ombak,
2008), hlm. 31.
[46] Damardjati Supadjar, “Ketuhanan
Yang Maha Esa dan Rukun Ihsan” Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada
Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, (Yogyakarta: 31 Mei 2005), hlm. 27.
[47] http://ugm.ac.id/en/berita/2202-perayaan.70.tahun.prof.dr.damardjati.supadjar, diakses pada tanggal 19
November 2016 pukul 13.52
[48] Ahmad Nashih Luthfi, Biografi Umar Kayam, Manusia Ulang-Alik
(Yogyakarta: Eja Publisher 2007), hlm.118-189.
[49] Lihat Budiawan, Mematahkan Pewarisan Ingatan, Wacana
Anti-Komunis dan Politik Rekonsiliasi Pasca Soeharto, (Jakarta: Elsam,
2004)
[50] Muhmmad Fauzan “Pandangan
Kejawen Tentang Tuhan Menurut Damardjati Supadjar” (Skripsi Fakultas Ushuluddin
UIN Sunan Kalijaga, 2009), hlm. 15.
[51] Ibid, hlm. 16.
[52] Menggabungkan dua kata yang
hampir sama
[53] Heri Santoso, Berfilsafat ala Prof. Dr. Damardjati
Supadjar, (Yogyakarta: Pustaka Resmedia, 2010), hlm. 9.
[54]https://ugm.ac.id/id/berita/8703pakar.filsafat.jawa.ugm.prof.dr.damardjati.supadjar.berpulang, diakses pada tanggal 18
November 2016, pukul 15.15
[55] Urvashi Butalia, Sisi Balik senyap: Suara-suara dari pemisahan
India, (Magelang: Indonesia Tera, 2002), hlm. 17.
Posting Komentar