Sekilas Riwayat Hidup Damardjati Supadjar

SEKILAS RIWAYAT HIDUP DAMARDJATI SUPADJAR
A.    Latar Belakang Kehidupan
Biografi sudah barang tentu merupakan unit sejarah yang sejak zaman klasik telah ditulis. Sejak itu biografi termasuk bidang sejarah yang populer dan senantiasa sangat menarik serta banyak dibutuhkan. Untuk memahami dan mendalami kepribadian seseorang dituntut pengetahuan latar belakang lingkungan sosio-kultural di mana tokoh itu dibesarkan, bagaimana proses pendidikan formal dan informal yang dialami. Serta watak-watak orang yang ada disekitarnya.[1] Rekontruksi biografis amat memerlukan imajinasi yang besar agar dapat dibuat agar biodata tidak menyimpang dari faktor historistitas.
Unsur imajinasi harus menghasilkan konstruk atau bangunan karena kontruk tidak mungkin sama dengan gambaran lengkap atau potret dari apa yang sesungguhnya terjadi. Unsur-unsur yang sama-sama dicakup oleh kedua hal tersebut ialah fakta-fakta mengenai sejumlah peristiwa yang terjadi dalam suatu waktu tertentu. Oleh karena setiap kontruk senantiasa dituntut menghasilkan sesuatu yang utuh dan bulat baik itu naratif maupun deskripif.[2] Penulisan biografi secara ilmiah oleh sarjana sejarah Indonesia belum banyak dilakukan. Padahal sejarah konon adalah penjumlahan biografi para tokoh.[3] Tokoh atau aktor (intelektual), sebagaimana pendapat Arnold Toynbee, penting artinya sebagai kekuatan penggerak dalam suatu kurun waktu.[4] Dari sinilah studi biografi menjadi penting karena sesungguhnya didapati unsur sejarah yang paling akrab. Biografi tidak hanya pemahaman tentang seseorang secara personal dan mendalam, melainkan sosok pribadi yang dikaji ditempatkan sebagai pelaku yang secara langsung mempersepsi, menjalani, merasakan kekecewaan atau bahagia terhadap kehidupan.[5]
Sebagai karya sejarah yang berbentuk biografi, tulisan ini ingin menulusuri kesejarahan Damardjati Supadjar. Mulai dari kelahirannya, 30 Maret 1940, masa kecil yang berda di daerah kelahiranya Grabag, Magelang. Masa remaja dihabiskan di Yogyakarta, sampai dengan wafat beliau tanggal 17 Febuari 2014 di Yogyakarta. Dan dimakamkan di daerah kelahiranya Grabag, Magelang. Biografi tentu saja tidak bermaksud menulis semua aspek kehidupan seorang tokoh. Persoalan waktu yang demikian panjang akan dibingkai dalam satu tinjauan kultural, yakni sisi pemikiran beliau tantang Filsafat Islam Jawa.[6]
1. Masa Kecil
Rekontuksi ini akan berusaha menjawab pertanyaan sejauh manakah masa kecil Damardjati Supadjar berpengaruh nantinya, dalam kehidupan pribadi maupun intelektualnya. Freudian mengatakan bahwa the childhood is the father of man, dan pertumbuhan kedewasaan adalah penghalusan dari masa kecil yang telah terbentuk itu.[7] Demikian pentingnya masa kecil, tentu saja tidak pantas diabaikan sebagai suatu fase yang menempati posisi strategis dalam alam kosmis Jawa. Karena Damardjati Supadjar dibesarkan dikalangan orang desa Jawa dan menjadi penilaian sejauh manakah seorang anak memahami Jawa.[8] Dengan hubungan antara anggota keluarga, bapak dengan ibuk, bapak dengan anak, ibu dengan anak, anak lelaki dengan saudara perempuan atau saudara lelakinya sedemikian terjaganya.[9]
Oleh Franz Magnis Suseno disebut berada dalam posisi antara rasa isin, sungkan, dan tresno.[10] Peregangan atau tarik-menarik dalam komposisi yang tepat sebagai prinsip keselarasan dari ketiganya itulah pada tingkatan yang lebih luas menjadi dasar kebudayaan Jawa letak individu dalam masyarakat. Damardjati Supadjar sebagai anak Jawa, berada dalam satu penghayatan kejawaan semacam itu. Peneliti beranggapan bahwa Damardjati Supadjar dibesarkan dalam keluarga yang penuh nuansa kepriyayian. Akan dilihat beberapa variable yang mengindikasikan nilai-nilai kepriyayian tersebut: gelar, gaya hidup, pendidikan, hiburan-rekreasi, hubungnna keluarga, kesenian, pakaian, dan kebiasaan makan.[11]
Damardjati Supadjar yang lahir di lereng utara Gunung Merbabu, tepatnya di desa paling utara Kabupaten Magelang. Yaitu Desa Losari Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, 30 Maret 1940 M.[12] Pada tahun tersebut sedang terjadi gejolak dalam Negeri seperti pemberontakan-pemberontakan di Kota besar. Ia pun mendapat dampak peristiwa tersebut, ia harus berkali-kali pindah sekolah yang di karenakan peperangan yang terjadi pada saat itu. Terlihat pada pendidikan Damardjati Supadjar saat kelas 1 di tempat kelahiranya dan berpindah sekolah pada kelas 2 di Madiun, dan berpindah tempat lagi pada kelas 3 di SD atau Sekolah Rakyat (SR)[13] Budi Utomo, Yogyakarta. Sedangkan kelas 4, 5, dan 6 pindah sekolah lagi yaitu kembali kekampung kelahiranya di Losari.[14]
Damardjati Supadjar menghabiskan masa kecilnya di desanya Losari, dalam lingkungan desa Jawa, lingkungan-lingkungan itulah yang membagun kepribadian Damardjati Supadjar dan pada akhirnya ia harus meninggalkan lingkungan itu. Di lingkungan keluarga, pendidikan yang ditanamkan oleh kedua orang tuanya sangat kuat. Damardjati Supadjar sejak kecil sudah sering menyertai Bapak (almarhum) untuk nyekar[15] ke makam seseorang yang dipercayai sebagai prajurit Diponegoro dari kesatuan Wirapati. Makam itu berada pada semacam bukit kecil, yang dari situ bukan saja bisa melihat jauh, melainkan sambil lalu juga menerawang ke masa-masa silam disela-sela kisah kepahlawanan yang telah lalu. Disamping jangkah kedepan sesuai dengan yang dijangkah oleh orang-orang tua.[16]
Damardjati Supadjar memperoleh kesan yang mendalam pada usia 7 tahun, yakni ketika orang tuanya memberi pegangan hidup “manakala lapar dan tidak dapat makan, maka makanlah do’a. Pada masa berikutnya menjadi sebuah ajaran yaitu: madhang ora madhang tetep padhang.[17] Menginjak SLTP di SMP II Magelang, lalu pindah di SMP Kanisius (Pangudi Luhur) Ambarawa. Sementara SLTA di SGA[18] Semarang, karena berikatan dengan dinas, sehingga meringankan beban keluarga. Sejak muda dia sudah menekuni dunia pendidikan. [19] Setelah mengenyam bangku sekolah lanjutan, pada tahun 1968 Damardjati Supadjar mendapatkan izin dari orang tua untuk meneruskan pendidikanya dan cita-citanya itu terwujud ketika akhirnya ia dapat masuk kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM). Ia masuk Fakultas Peadagogik Fakultas (SPF) jurusan Filsafat.
2. Masa Mahasiswa
Dimana masa dewasa dihabiskan di Yogyakarta dengan menempuh studi di Fakultas paedagogik UGM, yang sekarang menjadi Fakultas Psikologi UGM.[20] Melanjutkan di fakultas filsafat angkatan pertama yang sebelumnya bertempat di wijilan.[21] Pribadi Damardjati Supadjar yang luwes mampu membuat orang mengajaknya tidak menjadi musuh meski berseberangan secara ideologis. Dengan cara itulah ia mengatasi batas-batas keyakinan.
Fakultas filsafat Universitas Gadjah Mada didirikan pada tanggal 18 Agustus 1967, dengan surat keputusan direktur jenderal perguruan tinggi nomor  90/1967 Tanggal 7 Agustus 1967, dan pelaksanaan penerimaan mahasiswa serta perkuliahan dimulai pada tahun 1968. Sebelum didirikannya fakultas filsafat secara mandiri, di lingkungan Universitas Gadjah Mada telah ada fakultas sastra, paedagogik, dan filsafat. Berdasarkan peraturan pemerintah No. 37 tahun 1950 pasal 5 ayat (1) huruf (d) tertanggal 14 Agustus 1950 dinyatakan bahwa di UGM fakultas sastra, paedagogik dan filsafat terdiri dari: bagian sastra, bagian paedagogik, dan bagian filsafat yang disingkat SPF. Fakultas tersebut diresmikan pada tanggal 23 Januari 1951, dengan ketuanya Prof. Drs. Abdullah Sigit.[22]
Berdasarkan keputusan menteri pendidikan pengajaran & kebudayaan No. 5375 tanggal 15 September 1955, dibentuklah gabungan fakultas umum dan filsafat. Penggabungan kedua fakultas tersebut mengingat kedudukan fakultas filsafat di dalam Universitas Gadjah Mada, dan kedudukan ilmu filsafat yang sentral di dalam ilmu pengetahuan. Pimpinan gabungan fakultas umum dan filsafat periode 1958-1962 adalah: dekan Prof. Drs. Notonagoro, S.H., Sekretaris Drs. Koento Wibisono. Pada tahun 1961 dengan surat keputusan menteri PTIP No. 32/1961 tanggal 8 Agustus 1961, fakultas filsafat ditiadakan dan kemudian disusul dengan surat keputusan menteri PTIP No. 144/1962 tertanggal 27 November 1962 yang menyatakan bahwa fakultas umum dihapuskan.
Berdasarkan surat keputusan Rektor UGM No. 1/1963 tanggal 25 Januari 1963, dibentuklah biro penyelenggaraan kuliah-kuliah khusus di UGM, disingkat BPKKC, untuk menyelenggarakan tugas-tugas yang semula ditangani oleh gabungan fakultas umum dan fakultas filsafat yang telah dibubarkan. Tugas BPKKC adalah memelihara dan menyelenggarakan kuliah: filsafat, ideologi Negara, pendidikan Agama, studium generale di lingkungan Universitas Gadjah Mada. Tugas BPKKC telah dilaksanakan mulai tahun 1962. Pimpinan BPKKC 1963 –1966 adalah: Ketua Drs. KoentoWibisono, Wakil Ketua Drs. Soejono Soemargono. Setelah fakultas filsafat UGM berdiri kembali pada berdasarkan SK Direktur Jenderal Perguruan Tinggi tanggal 7 Agustus 1967 Nomor: 90/1967, dan, dengan Keputusan Rektor UGM tanggal 23 September 1969 No. 44/1969 BPKKC diintegrasikan kedalam fakultas filsafat yang berlaku sejak Januari 1969.[23]
Ketika UGM membuka Fakultas Filsafat, Damardjati Supadjar sebagai mahasiswa angkatan pertama pada tahun 1968. Walaupun tidak begitu lancar, Damardjati Supadjar memantapkan untuk melanjutkan kuliah lagi. Walaupun sejak tahun 1950-60-an sebenarnya telah terjadi radikalisasi kampus. Tahun itu terjadi ledakan jumlah mahasiswa sampai jumlah ratusan ribu. Persepsi bertambah banyaknya mahasiswa serta prospek adanya pemilihan umum 1955, yang menyebabkan partai-partai politik tertarik pada dunia universitas.[24] Di kampus sendiri, aliran politik itu sangat kelihatan. Mereka banyak mempengaruhi kehidupan kampus melalui kegiatan-kegiatan kampus dengan munculnya nama-nama seperti Sunardi (tokoh Lekra). Dosen yang menjadi ketua Himpunan Sarjana Indonesia Dr. Boesono Wiwoho[25] dan masih banyak lagi.
Meski demikian, Damardjati Supadjar menawarkan historiografi[26] baru dalam dalam penulisan sejarah Indonesia. Sejarah tidak dalam pengertian akurasi data, namun penekanannya lebih pada pengalaman. Dalam historiografi Indonesia tentang “The Indonesia Killings”, orang yang mengungkap  dampak aksi tersebut terhadap para korban dan keluarganya adalah H. J. C. Princen dari lembaga pembelaan hak asasi manuisa. Laporanya disajikan dalam harian kami tertanggal 26 februari 1969.[27]
Damardjati Supadjar selesai di fakultas filsafat pada tahun 1978 dengan judul Unsur-unsur Kefilsafatan Sosial Serat Sastra Gendhing, sebuah karya yang banyak mengupas pikiran-pikiran filsafat yang dibangun oleh Sultan Agung.[28] Untuk membiayai kuliahnya pada masa sulit, dia terpaksa menjadi sopir angkutan yang menuju kampus UGM.[29] Mungkin masa-masa yang cukup sulit ini dilaluinya sambil kuliah di fakultas filsafat. Damardjati Supadjar tinggal di Desa Kancilan, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta bersama istri yang bernama Sri Winarni dan keempat putra-putrinya.[30]
Pada saat pemerintah Belanda menawarkan beasiswa, Damardjati Supadjar menerima dan melanjutkan progam S2 dan Pra S3 di Rijk Universiiteit Laiden Belanda. Disini ia memusatkan diri pada pendalaman konsep ketuhanan menurut filsafat proses tahun 1986. Atas bimbingan Prof. Dr.C.A Van Peursen. Dan tercapailah gelar doktor filsafat di Pascasarjana UGM pada tahun 1990[31]. Dengan disertasi Konsep Ketuhanan menurut Filsafat Proses yang kini di terbitkan menjadi buku. 
Pribadi Damardjati Supadjar yang luwes[32] itu (nice personality), dan melalui kelakar-kelakarnya mampu membuat orang yang mengajaknya tidak menjadi musuh meski berseberangan secara ideologis. Dengan cara itulah ia mengatasi batas-batas keyakinan (beyond idelogy) dan tanpa sadar melakukan desakralisasi politik untuk tunduk dibawah kaki kebudayaan dan secara esoteris terhadap kemanusiaan[33]. Terlalu terburu-buru kiranya untuk menyimpulkan posisi Damardjati Supadjar semacam itu. Namun setidaknya ungkapan fakta itu dapat dikatakan sebagai benih esoterisme Damardjati Supadjar.
3. Masa Mengajar
Suatu peristiwa penting yang memberi akibat pada sesorang untuk mengorientasikan kembalinya peranannya. Efek yang ditimbulkan bisa positif atau negatif.[34] Karena berusaha ditemukan apakah pernah dialami oleh Damardjati Supadjar dalam hal penting kehidupan seseorang.[35] Mengenal Damardjati Supadjar sebagai cendikiawan berdasarkan teoritis. Peneliti melihat gejala kecendikiawanan ada pada diri Damardjati Supadjar yang bersifat relasional: antara sistim pengetahuan atau modal simbolik, modal ekonomik, dan modal kultural. Cendikiawanan berada di tapal batas antara modal dan kekuasaan disuatu sisi dan masyarakat di sisi yang lain. Dalam relasi ini mempertahankan apa yang disebut sebagai budaya yang mengkritik tentang tulisan.[36]
Bahwa cendikiawan sebagai orang yang kegiatan utamanya bukanlah mengejar tujuan-tujuan praktis, tetapi mencari kebahagian dalam mengolah seni, ilmu, atau renungan metafisik. Mereka adalah para ilmuwan, filosof, seniman, dan ahli metafisika yang mendapat kepuasan dalam penerapan ilmu pengetahuan. Kaum cendikiawan dalam posisi itu menyakini adanya “kebenaran universal”. Meski dalam perkembangannya makna kebenaran universal mendapat bantahan. Karena kebenaran itu adalah sesuatu teks oleh karena itu menyamakan kaum intelektual dengan agamawan sebagai penyampai teks kebenaran dari Tuhan.[37]
Bersama dengan rekan-rekanya Damardjati supadjar mendirikan Pusat Studi Pancasila (PSP). Berdiri sejak 12 Juli 1995 ditetapkan melalui Keputusan Rektor Universitas Gadjah Mada Nomor: UGM/87/3966/UM/01/37. PSP memiliki core research tentang kebangsaan, ideologi, citizenship, sejarah bangsa, dan pembudayaan nilai-nilai Pancasila. Kegiatan utama PSP mencakup penelitian, kajian, training, dan diskusi rutin. Sebagai lembaga riset yang berbasis pada ideologi, PSP memiliki peran yang strategis dalam mewacanakan, mengembangkan, dan membudayakan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara baik secara akademik maupun secara praktis. Pada periode pertama Prof. Dr. Koento Wibisono menjadi pemimpin periode 1995-2002 dan barulah Damardjati Supadjar menjabat sebagai pemimpin Pusat Studi Pancasila (PSP) periode 2002-2006.[38]
Karyanya meliputi Filsafat, artikel, esai-esai dan kebudayaan. Terkhusus ia menaruh perhatian pada kebudayaan Jawa, karena karyanya dianggap mempunyai karakter yang khas kental dengan nuansa Islam dan ilmu Jawa karena jarang dimiliki oleh orang lain pada umumnya. Sosok Damardjati Supadjar dalam berbagai bidangnya inilah yang menjustifikasi demikian signifikan sehingga ia perlu dikaji lebih mendalam. Dimata kolega dosen dan mahasiswanya ia dikenal sebagai pribadi yang ramah, tenang, murah senyum, memancarkan kewibawaan, namun tetap sederhana. Setiap kata yang diucapkan berbobot atau bermakna, walaupun bila kita sudah akrab dengan ia kita akan dapat membedakan bahwa dibalik kata-katanya yang kelihatan serius tersebut sebenarnya tersembunyi banyak humor dan hikmah.
Dimata publik ia sering dianggap sebagai penasehat kraton Yogyakarta Hadiningrat, terutama dalam hal spiritual.[39] Damardjati Supadjar juga sering disebut pakar filsafat dan budaya.[40] Khusunya filsafat Jawa dan Islam. Damardjati Supadjar merupakan tokoh kejawen[41] dimana buah pemikiranya tidak terlepas dari keadaan masyarakat pada saat itu. Pemikiranya lebih jauh masuk kepada ajaran tasawuf Islam yang dikodifikasikan[42] dengan ajaran wulang wuruk kejawen sehingga ia merupakan tokoh yang memerankan seorang muslim dan disisi lain ia juga memerankan orangg Jawa yang tidak meninggalkan kejawaanya. Dimana ajaran tersebut lebih bersifat tersirat dari pada tersurat.[43]
Pada tanggal 31 Mei 2005 Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menganugrahkan gelar Guru Besar kepada Prof. Dr. Damardjati Supadjar.[44] Ada beberapa pendapat dan saran mengenai gelar kehormatan yang hendak diberikan. Namun bahwa gelar yang paling baik adalah yang dilangsungkan pada peristiwa itu. Kata Guru mengandung makna yang melebihi arti yang umumnya dikenal, jadi bukan sekedar orang yang mata pencahariannya atau profesinya sebagai pengajar saja. Kata guru berasal dari bahasa sansekerta yang mengandung arti penting, bobot, dan bermartabat yang telah menjadi kosata kata banyak bahasa dunia.[45]
Dalam pidato pengukuhan jabatan guru besar fakultas filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) Damardjati Supadjar dengan tema Ketuhanan Yang Maha Esa dan Rukun Islam mengatakan kita secara bersama bisa melakukan koreksi diri  secara sistematik. Maka kita kembali ketitik balik sangkan-paraning-dumadi, sambil meningkatkan mutu maqom pamoring-kawula-gusti relevan dengan refernsi timur dan barat, bahkan dengan jiwa agama awal-akhir lahir batin.[46]
Pada usia 70 tahun Damardjati Supadjar pensiun dari mengajar di Fakultas Filsafat. Dalam rangka itu Fakultas Filsafat dan pusat studi pancasila (PSP) berencana menggelar orasi budaya dan peluncuran buku pada tanggal 30 Maret 2010.[47] Terjadinya proses pewarisan ingatan atau pewacanaan secara sistemik, sadar atau tidak oleh komunitas di sekelilingnya. Ingatan adalah perekayasaan, atas apa yang ingin dan tidak ingin diingat, bukan tindakan orang per orang dalam syaraf mereka masing-masing namaun sebagai tindakan sosial.
Dalam momentum peringatan tersebut, yang terjadi kemudian adalah arus bolak balik antara pihak yang memproduksi ingatan dan pihak yang meresepsinya. Ingatan itu barangkali tidak menemukan referensinya di masa lalu, sehingga demikian ia melakukan distorsi. Bisa juga sebaliknya sehingga tersepakati bentuk ingatan itu di dalam komunitas. Pihak yang kritis tidak akan menerima begitu saja produksi wacana itu, disesuaikan dengan tingkat kepentingan dan modal ingatan yang ada dalam benak mereka sebagai rujukan.[48]
Mengikuti pandangan Heideggerian bahwa sejarah bukan hanya narasi tentang masa lalu, melainkan sejarah sebagai sesuatu yang hidup pada masa kini, urain ini member paparan sinkronik bagaimana Damardjati Supadjar dihadirkan, sebagai sebuah ingatan. Pendapat tentang peringatan oleh Pierre Nora biasanya digunakan sejarawan yang mengkaji tentang tragedi kemanusiaan oleh kekuasaan Negara dan produksi wacana atas tragedi tersebut terhadap masyarakat. Sebagaimana kajian yang dilakukan Budiawan terhadap wacana anti-komunisme dan politik ingatan Orde Baru.[49]
4. Aktivitas Damardjati Supadjar di Luar Mengajar
Kegiatan Damardjati Supadjar tidak terbatas hanya pada mengajar, tetapi ia juga rajin menulis buku, artikel-artikel untuk surat kabar dan media massa seperti, SKH Kedaulatan Rakyat dan Minggu Pagi tulisanya mencakup bidang-bidang ilmu pengetahuan, politik, agama dan sebagainya. Yang sering di tuangkannya pemikiran Damardjati Supadjar yang di kenal dengan istilah rubrik “Mawas Diri”, dan “Wulang-Wuruk”.[50] Sosok santun ini juga dikenal publik sebagai penceramah diberbagai forum, budayawan, narasumber diskusi majlis taklim keagamaan, guru besar di salah satu perguruan tinggi, penulis, dan narasumber di seminar-seminar, radio maupun koran.
Ada juga di media elektronik dia juga aktif dalam acara rubrik “Kaca Diri”  distasiun UNISI FM sementara bagi mereka yang gemar menyaksikan televisi, Damardjati Supadjar juga sering muncul di RBTV Yogyakarta satu minggu sekali di hari minggu.[51] Mengenal sosok Damardjati Supadjar adalah pakar Filsafat barat dan timur khususnya, jawa dengan basis ilmu Psikologi. Dengan ciri khasnya Damardjati Supadjar  menggunakan bahasa guyonan vulgar dengan bahasa Jawa disertai othak- athik ghatuk[52] bahasa.
Sebagai ilmuwan yang berfilsafat atau sebaliknya, Damardjati Supadjar berperan baik sebagai fasilitator ketika ia menjabat ataupun tidak, memberi sumbangan pemikiran terutama dengan karya tulis dan penelitiannya dan masih banyak lagi. Di mata publik Yogyakarta ia sering dianggap sebagai penasehat Sri Sultan HB X tetapi ia membantah dengan humor, yang betul, saya konsultan. Artinya konkonane Sultan (orang yang sering diperintah Sultan). Selama ini masyarakat mengenal Damardjati Supadjar sebagai pakar filsafat dan budaya.[53]
Sejak beberapa waktu terakhir, Damardjati Supadjar menjalani perawatann karena sakit yang dideritanya yaitu gejala stroke. Setelah ikut memperkaya peradapan umat manusia melalui tulisan, pengajaran pergaulan, dan hidupnya sendiri selama 74 tahun. Damardjati Supadjar akhirnya meninggal dunia, Senin 17 Febuari 2014  pukul 17.05 wib di kediamannya, Jl. Kaliurang Km 5,6 CT.T/12, Kancilan, Ngagilk, Sleman, Yogyakarta, karena sakit yang dideritanya. Sebagai salah seorang filsuf besar di Jawa, jenazah almarhum dikebumikan di pemakaman keluarga yang terletak di kampung halaman Desa Wates, Losari, Grabag, Magelang, Jawa Tengah.[54]
Damardjati Supadjar meninggalkan seorang istri, Sri Winarti, serta empat orang anak, yaitu Norma Diani, Garba Pradapa, Bawa Mahastu, dan Ajar Nuhoni. Wafatnya guru besar filsafat ini meninggalkan duka yang mendalam bagi masyarakat, kerabat, dan seluruh keluarga besar. Tatkala kehidupan adalah di luar hidup itu sendiri, kehidupan pasca kematian lebih untuk orang-orang yang ditinggalkan, bukan pada siapa yang meninggal. Meski ironi, peringatan itu adalah dokumentasi sebuah bentuk hubungan, memori yang sifatnya relasional.
Deskripsi diatas merekontruksi relasi itu, selain materi dari ingatan itu, cara orang mengingatnya juga menjadi penting, dan menyampaikan peristiwa adalah sama pentingnya dengan menghimpun sejarah melalui fakta-fakta. Kisah apapun yang muncul dari ingatan itu bukanlah fiksi, bukan pula penyimpangan dari kebenaran melainkan bagian dari kebenaran dalam suatu versi tertentu dalam bentuk yang lain.[55]Dengan demikian gema, roh dan spirit Damardjati Supadjar sebagai pribadi maupun pemikir bisa terasakan dan tergali dengan baik relasi itu hadir melalui keluarga, sahabat dan teman kerjanya. Suatu rasa hati yang kuat berupa kasih sayang, cinta akan kangen hadirnya sosoknya Damardjati Supadjar.






[1] Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah, (Yogyakarta: Ombak, 2016), hlm. 86-87.
[2] Ibid, hlm. 102.
[3] Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003), hlm. 203.
[4] Ronald H Nash, Ideas of History, Vol I, (New York: E P. Dutton & Co. Inc, 1969), hlm. 175-219.
[5] M. Nursam, Pergumulan Seorang Intelektual Biografi Soedjatmoko, (Jakarta: Gramedia, 2002), hlm.9.
[6] Ahmad Nashih Luthfi, Biografi Umar Kayam, Manusia Ulang-Alik, (Yogyakarta: Eja Publisher, 2007), hlm. 7.
[7] Sumadi Suryabrata, Psikologi Kepribadian, (Jakarta: Rajawali Pres, 1983), hlm.167.
[8] Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), hlm. 4.
[9] Ahmad Nashih Luthfi, Biografi Umar Kayam, Manusia Ulang-Alik, (Yogyakarta: Eja Publisher, 2007), hlm. 23.
[10] Franz Magnis Suseno, Etika Jawa, Sebuah Analisis Filsafat Tentang Kebijaksanaan Jawa, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999), hlm.168.
[11] Kerangka ini didapat dari, Sartono Kartodirjo dkk, perkembangan peradapan priyayi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1993)
[12] Damardjati Supadjar, Wulang Wuruk Jawa : Mutiara Kearifan Lokal (Yogyakarta: Penerbit  Dammar-Jati, 2005), hlm. 163
[13] Sekolah Rakyat ialah sekolah yang berdiri pada masa Jepang dan berubah menjadi sekolah dasar (SD) setelah Indonesia merdeka.
[14] Damardjati Supadjar, Mawas Diri, Dari Diri yang Tanggal, Ke Diri yang “Terdaftar, Diakui, Disamakan” yakni Diri yang Terus Terang dan Terang Terus (Yogyakarta : Philosophy Press, 2001), hlm. 383.
[15] Nyekar ialah ritual berdoa dan mengunjungi makam keluarga yang telah meninggal, dengan menabur bunga diatas makam sambil membaca doa.
[16] Damardjati Supadjar, Nawangsari (Yogyakarta: Media Widya Mandala, 1993)
[17] Damardjati Supadjar, Filsafat Ketuhanan (Yogyakarta: Fajar Pustaka, 2003), hlm. 222.
[18] SGA ialah Sekolah Guru Atas
[19] Damardjati Supadjar, Mawas Diri, Dari Diri yang Tanggal, Ke Diri yang “Terdaftar, Diakui, Disamakan” yakni Diri yang Terus Terang dan Terang Terus (Yogyakarta : Philosophy Press, 2001), hlm. 383.
[20] Damardjati Supadjar, Filsafat Ketuhanan (Yogyakarta : Fajar Pustaka, 2003), hlm.222
[21] Sahid Susanto dan Bambang Purwanto, Universitas Gadjah Mada dari Masa ke Masa Menuju Otonomi Perguruan Tinggi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2001), hlm. 16-19.
[22] http://filsafat.ugm.ac.id/Postingan/93, diakses pada tanggal 18 November 2016 pukul 15.15 WIB
[23] http://filsafat.ugm.ac.id/Postingan/93, diakses pada tanggal 18 November 2016 pukul 15.15
[24] Lihat; Francois Raillon, Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia, Pembentukan dan Konsolidasi Orde Baru 1966-1974, (Jakarta: LP3ES, 1985), hlm. 9.
[25] Ahmad Nashih Luthfi, Biografi Umar Kayam, Manusia Ulang-Alik, (Yogyakarta: Eja Publisher, 2007), hlm. 44.
[26] Historiografi ialah  ilmu yang mempelajari praktik ilmu sejarah. Hal ini dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, termasuk mempelajari metodologi sejarah dan perkembangan sejarah sebagai suatu disiplin akademik. Istilah ini dapat pula merujuk pada bagian tertentu dari tulisan sejarah.
[27] Lihat Robert Cribb, Pembantain PKI di Jawa dan Bali 1965-1966, (Yogyakarta: 2003), hlm. 324.
[28] Damardjati Supadjar, Mawas Diri, Dari Diri yang Tanggal, Ke Diri yang “Terdaftar, Diakui, Disamakan” yakni Diri yang Terus Terang dan Terang Terus (Yogyakarta : Philosophy Press, 2001), hlm. 383.
[29] https://id.wikipedia.org/wiki/Damardjati_Supadjar, diakses pada tanggal 18 November 2016, pukul 15.15
[30] Damardjati Supadjar, Mawas Diri, Dari Diri yang Tanggal, Ke Diri yang “Terdaftar, Diakui, Disamakan” yakni Diri yang Terus Terang dan Terang Terus (Yogyakarta : Philosophy Press, 2001), hlm. 384.
[31] Damardjati Supadjar, Filsafat Ketuhanan,(Yogyakarta : Fajar Pustaka Baru, 2001),  hlm .223.
[32] Luwes ialah pantas dan menarik; elok menurut KBBI
[33] Ahmad Nashih Luthfi, Biografi Umar Kayam, Manusia Ulang-Alik, (Yogyakarta: Eja Publisher, 2007), hlm. 45.
[34] Daniel Dhakidae, Cendikiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru, (Jakarta: Gramedia, 2003).
[35] Normon K. Denzin, Interpretive Biography, (California : Sage Publications, Inc,: 1989), hlm. 10 dan 70.
[36] Julian Benda, The Betrayal of Intellectuals, (Boston : The Beacon Press, 1959), hlm.19.
[37] Ahmad Nashih Luthfi, Biografi Umar Kayam, Manusia Ulang-Alik (Yogyakarta: Eja Publisher 2007), hlm.11.
[38] http://psp.ugm.ac.id/Profil-PSP-2014.pdf, diakses pada tanggal 18 November 2016, pukul 15.15
[39] Damardjati Supadjar, Wulang-Wuruk Jawa,(Yogyakarta : Dammar- Jati, 2005), hlm. 164.
[40] Heri Santoso, Berfilsafat ala Prof. Dr. Damardjati Supadjar,(Yogyakarta: Pustaka Resmedia, 2010), hlm.9.
[41] Akhmad Charis Zubair (dkk.), Universitas Jagad Raya: Fakultas Kehidupan – Jurusan Jalan Lurus, (Jakarta: GAIA Books, 2005), hlm. 165.
[42] Kodifikasi ialah menyusun, membukukan,dan  mencatat hasil strandardisasi yang dapat berupa tata bahasa
[43] Muhmmad Fauzan “Pandangan Kejawen Tentang Tuhan Menurut Damardjati Supadjar” (Skripsi Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, 2009), hlm. 17.
[44] Damardjati Supadjar, “Ketuhanan Yang Maha Esa dan Rukun Ihsan” Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, (Yogyakarta: 31 Mei 2005)
[45] M. Nursam, dkk, Sejarah  Yang Memihak ‘Mengenang Sartono Kartodirdjo, (Yogyakarta: Ombak, 2008), hlm. 31.
[46] Damardjati Supadjar, “Ketuhanan Yang Maha Esa dan Rukun Ihsan” Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, (Yogyakarta: 31 Mei 2005), hlm. 27.
[48] Ahmad Nashih Luthfi, Biografi Umar Kayam, Manusia Ulang-Alik (Yogyakarta: Eja Publisher 2007), hlm.118-189.
[49] Lihat Budiawan, Mematahkan Pewarisan Ingatan, Wacana Anti-Komunis dan Politik Rekonsiliasi Pasca Soeharto, (Jakarta: Elsam, 2004)
[50] Muhmmad Fauzan “Pandangan Kejawen Tentang Tuhan Menurut Damardjati Supadjar” (Skripsi Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, 2009), hlm. 15.
[51] Ibid, hlm. 16.
[52] Menggabungkan dua kata yang hampir sama
[53] Heri Santoso, Berfilsafat ala Prof. Dr. Damardjati Supadjar, (Yogyakarta: Pustaka Resmedia, 2010), hlm. 9.
[55] Urvashi Butalia, Sisi Balik senyap: Suara-suara dari pemisahan India, (Magelang: Indonesia Tera, 2002), hlm. 17.

Posting Komentar

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates